Jakarta, Karosatuklik.com – Amerika Serikat mengerahkan jet tempur generasi keempat dan generasi kelima serta pesawat AWACS ke Timur Tengah dalam dua beberapa hari terakhir.
Laporan terbaru dari pejabat AS yang dikutip Axios menyebutkan bahwa ada lebih dari 50 jet tempur tambahan yang digeser ke Timur Tengah hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
Pesawat-pesawat yang dikerahkan tersebut mencakup F-16 Fighting Falcon, F-15E Strike Eagle, F-35A Lightning II, F-22 Raptor, serta pesawat peringatan dini dan kontrol udara E-3 Sentry.
Bila dibagi dalam peran masing-masing, F-16 dan F-15E merupakan pesawat tempur multiperan yang menjadi tulang punggung untuk serangan darat sejak lama.
F-35A berfokus pada misi penghancuran pertahanan udara musuh (SEAD) dan serangan presisi siluman.
F-22 untuk peran superioritas udara terbaik di dunia guna memastikan tidak ada pesawat lawan yang bisa mengancam ruang udara operasional AS.
Sementara E-3 berperan sebagai “mata di langit” yang mengoordinasikan seluruh pertempuran udara dan mendeteksi ancaman dari jarak sangat jauh.
Kekuatan pesawat dari Angkatan Udara AS (USAF) ini melengkapi gugus tugas dua kapal induk Angkatan Laut AS (US Navy) yang disiagakan di Laut Arab.
Kehadiran dua kapal induk di Timur Tengah memberikan AS kemampuan untuk meluncurkan serangan udara dari dua arah berbeda secara simultan, yang akan menyulitkan sistem pertahanan udara lawan.
Kedua kapal induk ini dijaga ketat oleh armada kapal pengawalnya, maupun jet-jet tempur yang dikerahkan ke udara dari dek kapal.
Pada awal Februari, terjadi insiden di mana sebuah jet tempur F-35C dari USS Abraham Lincoln menembak jatuh sebuah drone Shahed-139 Iran yang terbang terlalu dekat dengan kapal induk tersebut tersebut.
Analis mengaitkan pengerahan besar-besaran armada tempur udara AS dengan negosiasi nuklir yang berlangsung di Jenewa.
AS menggunakan kekuatan militernya sebagai bentuk daya tawar (leverage) agar Iran menyetujui kesepakatan baru yang lebih ketat.
Pemerintahan Presiden Donald Trump tampaknya menjalankan strategi yang disebut “Peace through Strength” (Perdamaian melalui Kekuatan).
Di satu sisi, diplomat AS seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff melakukan pembicaraan di Jenewa, namun di sisi lain, Pentagon menyiapkan kekuatan yang diproyeksikan dapat melumpuhkan pertahanan lawan dalam hitungan jam. (R1/AIRSPACE REVIEW)
