Dokan, Karosatuklik.com – Bupati Karo, Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG, M.Kes, yang diwakili Wakil Bupati, Komando Tarigan, SP secara resmi menyambut ratusan peserta Jelajah Wisata Budaya ke-4 (JWB4) yang di Desa Budaya Dokan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Rabu (07/10/2026).
Dalam sambutan tertulis Bupati Karo yang dibacakan Wakil Bupati, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Karo mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) yang telah memilih Kabupaten Karo sebagai lokasi penyelenggaraan Jelajah Wisata Budaya tahun 2026.
Desa Budaya Dokan
“Desa Dokan bukan hanya sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang hidup kebudayaan Karo. Di desa budaya ini, kita dapat melihat jejak kehidupan masyarakat, rumah adat, tradisi, kearifan lokal, serta nilai-nilai budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Komando Tarigan.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pengembangan pariwisata dan kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi serta sinergi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas pelaku wisata.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk membangun jejaring pemasaran pariwisata Desa Dokan serta mendorong penciptaan paket-paket wisata berkualitas yang siap dipasarkan kepada para wisatawan domestik maupun mancanegara,” sebutnya.
“Pemerintah Kabupaten Karo juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dan menjadi mitra aktif bagi para pelaku pariwisata guna meningkatkan lama tinggal (length of stay) dan kunjungan wisatawan ke kawasan ekosistem pariwisata Danau Toba,” tutur Bupati Karo.
Melalui kunjungan ini, Desa Dokan diproyeksikan menjadi salah satu titik kunci dalam rute/paket wisata yang menghubungkan Medan–Berastagi–Desa Dokan–Danau Toba.
Konsep pengembangannya tidak hanya mengandalkan wisata alam, tetapi menggabungkan pengalaman budaya, kuliner, pertanian, dan kearifan lokal masyarakat.
“Pengembangan pariwisata dan kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas wisata,” jelasnya.
Kunjungan ini diharapkan memperluas promosi wisata budaya Karo sekaligus melahirkan paket perjalanan baru yang lebih beragam dan berdaya saing di Sumatera Utara.
Kepada masyarakat Desa Dokan, pesan disampaikan agar senantiasa menjaga identitas serta kekayaan budaya sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata daerah.
Acara penyambutan ini turut dihadiri oleh berbagai pejabat dan pemangku kepentingan penting, di antaranya:
- Direktur Pemasaran BPODT, Wahyu Dito Galih Indharto
- Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara Kementerian Kebudayaan RI, Sukronedi
- Konsul Kehormatan Thailand Medan, Mr.Martono Anggusti
- Ketua DPD ASPPI Sumatera Utara, Ahmad Fauzi Lubis
- Para buyer pariwisata nusantara dan luar negeri
- Perwakilan pimpinan BUMN/BUMD pendukung (PT Bank Sumut Cabang Kabanjahe, PT PNM Cabang Kabanjahe, PT Telkomsel Kabanjahe)
- Forum pelestarian budaya Kabupaten Karo
- Jajaran Kepala Perangkat Daerah, Camat Merek, Kepala Desa Dokan, serta para tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.
Pada kesempatan itu, Konsul Kehormatan Thailand Medan, Mr.Martono Anggusti mengagumi arsitektur rumah adat suku Karo “Siwaluh Jabu” yang sudah berusia ratusan tahun.
“Sebuah peninggalan budaya yang menjadi representasi identitas masyarakat Suku Karo. Bangunan tradisional ini tidak sekadar menampilkan keindahan arsitektur khas Karo, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, filosofi kehidupan, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ungkapnya.
Sebagai informasi, rumah adat suku Karo di Sumatra Utara dikenal dengan nama Siwaluh Jabu, yang memiliki arti rumah (jabu) yang dihuni oleh delapan (siwaluh) keluarga.
Keunikan Rumah Adat Suku Karo
- Dibangun Tanpa Paku Besi: Seluruh struktur bangunan tidak menggunakan paku logam, melainkan memanfaatkan sistem pasak kayu, bambu, serta ikatan tali dari ijuk untuk menyambung tiang dan rangka kayu.
- Dihuni oleh 8 Keluarga Bersamaan: Satu unit rumah besar ini dirancang untuk ditempati secara komunal oleh delapan kepala keluarga dengan peran dan posisi adat yang spesifik di dalam rumah.
- Desain Rumah Panggung & Tahan Gempa: Dibangun sebagai rumah panggung dengan kolong di bagian bawah (biasanya untuk hewan ternak atau penyimpanan), dan struktur fleksibelnya membuat bangunan ini kokoh serta tahan gempa.
- Atap Menjulang dan Bermaterial Ijuk: Memiliki atap tinggi dengan bentuk melengkung seperti pelana kuda (atau variasi si anjung-anjung dan meku) yang ditutupi oleh serat ijuk hitam.
- Tanpa Sekat Pemisah Ruangan: Di dalam rumah tidak ada dinding atau sekat masif yang membatasi antar-keluarga; pembagian wilayah antar-penghuni ditandai menggunakan garis-garis adat atau pembagian fungsi ruang secara tradisional.
- Memiliki 4 Dapur Bersama: Meskipun dihuni delapan keluarga, rumah ini umumnya dilengkapi empat dapur yang dapat digunakan secara berbagi oleh para penghuninya.
- Simbol dan Filosofi Leluhur: Pembangunan rumah dianggap selayaknya membangun tempat tinggal bagi roh leluhur, serta dihiasi ukiran khas serta ornamen penolak bala (seperti kepala kerbau di bagian atap).
Kegiatan diakhiri dengan komitmen bersama untuk mewujudkan kerja sama konkret dalam memajukan pariwisata berbasis kebudayaan yang berkelanjutan di Kabupaten Karo. (R1)
Baca Juga:
