Jakarta, Karosatuklik.com – Helikopter Mil Mi-6 memiliki kisah tersendiri dalam perjalanan sejarah pesawat angkut berat di jajaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Kehadirannya menandai salah satu fase penting dalam penguatan kemampuan mobilitas udara Indonesia, sekaligus memperkuat peran TNI AU dalam operasi militer, logistik, dan kemanusiaan di seluruh Nusantara.
Melansir unggahan Instagram @sejarah_tniau, Rabu (25/2), helikopter asal Uni Soviet tersebut pertama kali hadir di Indonesia pada 1965.
Selama masa pengabdiannya, TNI AU dilaporkan mengoperasikan sembilan unit dengan nomor ekor H-270 hingga H-278.
Pada masanya, Mil Mi-6 tercatat sebagai salah satu helikopter terbesar di dunia. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) bahkan memberi kode ‘Hook’ untuk helikopter raksasa tersebut.

Dari sisi spesifikasi, Mil Mi-6 ditenagai dua mesin turboshaft Soloviev D-25V dan diawaki lima orang. Helikopter ini mampu mengangkut hingga 12 ton kargo atau 90 penumpang.
Sementara itu, dalam konfigurasi evakuasi medis, Mil Mi-6 dapat membawa 41 tandu pasien, yang didukung dua paramedis.
Untuk tiba di Indonesia, Mil Mi-6 dikirim melalui jalur laut dari Sevastopol menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Setibanya di Tanah Air, helikopter angkut berat tersebut terlebih dahulu dirakit di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Setelah proses perakitan selesai, Mil Mi-6 kemudian diterbangkan menuju pangkalan induknya, di Pangkalan Udara Semplak, Bogor, yang kini dikenal sebagai Lanud Atang Sendjaja.
Untuk mendukung pengoperasiannya, TNI AU membentuk Skadron Helikopter Mi-6 Persiapan sementara melalui Surat Keputusan Men/Pangau Nomor 12 Tahun 1965.

Satuan tersebut kemudian berkembang menjadi Skadron Udara 8 Angkut Berat pada 25 Mei 1965.
Mil Mi-6 memiliki rekam jejak penugasan yang bersejarah, misalnya Operasi Dwikora serta misi penumpasan kelompok Paraku di Kalimantan Barat, di mana helikopter tersebut memiliki peran utama sebagai sarana transportasi pasukan dan dukungan logistik.
Namun, keterbatasan suku cadang membuat armada Mil Mi-6 resmi di- grounded pada 1968. “Kini, Mil Mi-6 hanya hidup dalam arsip, foto lama, dan kisah para kru, sebagai pengingat akan tantangan, keberanian, dan sejarah di balik setiap penerbangan militer pada masanya,” pungkas TNI AU. (R1/IDM)
Baca Juga:













Komentar