Megawati Minta Kader PDIP Kompak Bantu Korban Bencana Sumatera

Politik2574 Dilihat

Jakarta, Karosatuklik.com – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta kadernya tetap bersatu dan kompak dalam menolong warga yang menjadi korban bencana di Sumatera dan Aceh.

“Doa dan solidaritas kita panjatkan bagi para korban, serta kekuatan dan ketabahan bagi seluruh keluarga yang terdampak,” kata Megawati saat membuka pidatonya dalam rangka HUT ke-53 PDIP dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Mega, kader PDI Perjuangan harus menjadi pihak yang paling aktif dalam membantu proses pemulihan bencana di Sumatera dan Aceh.

Dirinya pun meminta para kadernya turun langsung ke lokasi bencana untuk melihat situasi dan berbicara langsung dengan para korban.

Dengan hadir secara langsung, dia yakin para kader akan lebih terbuka akan kondisi di sana sehingga dapat lebih memahami kebutuhan apa saja yang diperlukan korban.

“Pergi ke sana lihat keadaan di sana kalau merasa sebangsa dan setanah air untuk bergotong royong,” kata dia.

Dia menambahkan, butuh waktu hampir satu tahun untuk memulihkan wilayah bencana di Aceh dan Sumatera.

Untuk mempercepat proses pemulihan tersebut, Mega menekankan kepada para kadernya untuk terus bekerja sama membangun kembali Aceh dan Sumatera pascabencana.

“Membangun kembali satu tahun tidak bisa. Apakah bisa diam saja. Mereka itu saudara-saudara kita. Jangan ragu menolong sesama. Buktikan kalian orang PDIP. Mau? Buktikan,” tegasnya.

PDIP Gelar Rakernas pada 10-12 Januari 2026 di Jakarta

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDIP dan dilanjutkan dengan rapat kerja nasional (Rakernas) di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, pada 10-12 Januari 2026.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan Rakernas ini bukan sekadar agenda rutin tahunan namun menegaskan konsolidasi PDIP sebagai Partai Penyeimbang dalam kerja nyata di tengah rakyat.

Di dalam Rakernas ini akan dibahas sikap politik, termasuk jawaban Partai atas berbagai persoalan geopolitik, krisis ekologis, korupsi, persoalan ekonomi, penegakan hukum, hingga program internal Partai dan tanggung jawab kerakyatan Partai,” kata Hasto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Hasto menerangkan rangkaian agenda dimulai dari Pembukaan HUT ke-53 PDIP pada 10 Januari yang kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Rakernas hingga 12 Januari 2026 yang akan dihadiri pengurus pusat Partai dan pengurus daerah, anggota DPR RI Fraksi PDIP, anggota DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta kepala daerah/wakil kepala daerah PDIP. Rakernas ini menindaklanjuti hasil Kongres ke-VI PDIP yang dilaksanakan Agustus 2025 lalu.

Lebih lanjut Hasto mengatakan PDIP akan terus meneguhkan perjuangan bagi kemanusiaan dan keadilan serta keberpihakan pada rakyat sebagaimana terlihat pada penanganan bencana yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna PDIP) di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Jawa Barat dan wilayah lain yang terkena bencana.

“PDI Perjuangan menegaskan diri sebagai Partai Penyeimbang dengan kerja nyata di tengah rakyat di tengah berbagai bencana yang melanda di Tanah Air, dengan spirit kemanusian, keadilan dan keberpihakan kepada rakyat,” ujarnya.

Untuk agenda ini, Hasto menambahkan PDIP memilih tema Satyam Eva Jayate, dengan sub tema Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya.

Satyam Eva Jayate, adalah slogan berbahasa Sanskerta yang artinya “Kebenaran akan Menang”.

“Tema Satyam Eva Jayate menjadi perisai moral dengan standar kebenaran ideologi Pancasila dengan spirit kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945.

Bagi para pemuda, Satyam Eva Jayate bukan sekedar slogan, namun pesan moral dalam dunia digital untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi Konstitusi serta berani menempuh jalan ‘anti mainstream’ di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan,” urai Hasto.

Pria asal Yogyakarta itu menuturkan penegasan “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya” yang dikutip dari Lagu Kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman menggambarkan daya tahan (resilience) yang menyertai Satyam Eva Jayate.

“Keteguhan terhadap posisi “di sanalah aku berdiri” juga menggambarkan kesetiaan pada jalan kerakyatan di tengah godaan pragmatisme politik,” tuturnya. (Ant)

Komentar