Rupiah Tertekan terhadap Dolar AS, Biaya Bahan Baku Impor Naik

Nasional141 Dilihat

Jakarta, Karosatuklik.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat dampak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Biaya impor sejumlah sektor industri langsung terdampak pelemahan ini.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menyampaikan, pelemahan rupiah menjadi tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Apalagi, bagi perusahaan yang masih memasok bahan baku dari impor.

Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri,” kata Shinta, Sabtu (25/4/2026).

Dia mencatat, 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan begitu, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah.

“Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan,” ucap dia.

Shinta mencatat, sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi.

Sebagai contoh, kenaikan harga nafta sebagau bahan baku utama industri plastik telah meningkat signifikan dan mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen, yang kemudian berdampak berantai pada industri kemasan dan sektor hilir lainnya.

“Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok,” jelas dia.

Penyebab Tekanan Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pergerakan nilai tukar rupiah tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi domestik. Ia menilai, kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan.

Menurut Purbaya, dinamika rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global dan pembentukan ekspektasi pasar, termasuk sentimen negatif yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.

Pemerintah pun disebut terus berupaya merapikan berbagai kebijakan untuk mengurangi “noise” yang dapat memicu persepsi negatif terhadap perekonomian.

“Tapi untuk saya, ini bukan tanda pemburukan apa dipicu oleh pemburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat,” ujar Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, pemerintah kini fokus memperbaiki berbagai kendala di sektor ekonomi, termasuk menutup potensi kebocoran dalam sistem perpajakan serta memastikan kebijakan berjalan lebih efektif.

Sejumlah isu yang sebelumnya menimbulkan polemik, seperti kebijakan pajak tertentu, juga telah dirapikan agar tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Purbaya juga menyoroti pentingnya pengelolaan ekspektasi publik dan pelaku pasar. Menurut dia, sentimen negatif yang beredar justru dapat memperburuk persepsi terhadap rupiah, meskipun kondisi fundamental tidak berubah.

“Yang jelas adalah pondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan cenderung semakin cepat,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak melakukan intervensi untuk sengaja melemahkan rupiah demi kepentingan daya saing perdagangan. Ia menyebut, nilai tukar tetap bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi yang ada, meskipun dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh sentimen dan ekspektasi pasar. (R1/Liputan6 com)

Bagikan Ke :

Komentar