Wartawan Senior Selamat Ginting dan Anak Ajaib dari Argentina, Diego Armando Maradona

Berita, Nasional2206 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Wartawan senior Republika, Selamat Ginting, mendapatkan penghargaan tanda jasa negara berupa Satyalancana Wira Karya dari Presiden, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor. 60/TK/Tahun 2017, ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 21 Juni 2017.

Bung Ginting, sapaan akrabnya, merupakan satu di antara generasi wartawan di eranya yang beberapa kali mendapatkan penghargaan dari negara. Selain Satyalancana Wira Karya yang merupakan penghargaan di Hari Kemerdekaan 2017 ini, ia antara lain sudah pernah menerima Satyalancana Gerakan Operasi Militer (GOM) IX Irian Jaya atau disebut juga Satyalancana Raksaka Dharma.

Pada Hari Pers Nasional di Ambon, Maluku, 9 Februar 2017 lalu, lulusan SMA Negeri 38 Jakarta pada 1986 itu juga menerima Press Card Number One (PCNO) atau Kartu Pers Nomor Satu, bersama 17 wartawan senior lainnya di Indonesia. Salah satu penghargaan tertinggi kepada insan wartawan Indonesia.

PCNO diberikan kepada insan pers yang dinilai memiliki jasa dalam pengembangan dunia pers. Mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, integritas, dan profesionalisme di dunia pers,” kata Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Margiono saat itu.

Atas persetujuannya, redaksi karosatuklik.com mengutip sebuah tulisan Selamat Ginting tentang masa kecilnya yang mengidolakan sang anak ajaib Argentina, Diego Armando Maradona.

Armando Maradona

Pada 1979, papaku membeli televisi berwarna 14 inc. Saya tahu layar kaca ajaib itu dibelinya secara kredit di koperasi kesatuannya. Seorang kapten TNI hanya mampu membeli tivi warna ukuran mini dengan cicilan.

Itulah era awal televisi berwarna di Indonesia. Bahagia bukan kepalang bisa menonton televisi warna-warni. Televisi sebelumnya berlayar hitam putih. Supaya tampak berwarna, dilapisi plastik warna warni.

Oya, era itu juga masa sekolah diperpanjang dari satu tahun menjadi satu setengah tahun (1978/1979). Seharusnya saya sudah naik ke kelas 6 SD, tapi harus menunggu enam bulan lagi.

Di rumah, walau masih sekolah dasar, saya adalah ‘raja’ koran. Menentukan mau langganan koran atau majalah apa pun. Saya gonta ganti langganan koran, macam-macam koran, seperti, Kompas, Berita Buana, Berita Yudha, Merdeka. Empat koran itu bacaan saya saat SD. Masing-masing punya keunggulan.

Begitu momentum olahraga dunia tiba, saya ganti langganan koran Merdeka. Halaman olahraganya lebih banyak daripada koran lain. Analisisnya bagus. Saat itu jelang Piala Dunia Junior 1979. Di situ saya baca tentang anak ajaib dari Argentina, Diego Armando Maradona.

Masih kurang puas, saya cari lagi ke terminal bus Pasar Minggu. Naik bus robur, bentuknya seperti roti tawar. Bus buatan Jerman Timur itu adalah primadona bus di Jakarta pada 1965-1980.

Beli majalah-majalah olahraga. Naik bus sendiri untuk beli majalah. Anak SD rasanya sudah dewasa. Berpergian seorang diri ke sejumlah tempat di Jakarta. Termasuk menonton pertandingan olahraga di Senayan.

Singkat cerita. Final Piala Dunia Junior 1979 antara Argentina vs Uni Soviet. Saya nikmati sambil membawa koran dan majalah. Tak lupa menggunakan kaos La Albiceleste (Putih dan Biru langit). Kaos kebanggaan tim nasional sepakbola Argentina. Dibelikan mamaku usai Piala Dunia 1978. Argentina saat itu tampil sebagai juara dunia baru. Mengandaskan penjajah kita, Belanda.

Pada 1978 saat kelas 5 SD itulah, saya mulai benar-benar menyaksikan sejarah sepakbola dunia. Saya menulis tim-tim hebat dunia di majalah dinding sekolah. Guru kelas almarhum Pak Katimin bingung.

Mungkin dalam pikirannya, kok anak SD sudah mengulas sepakbola. Kadang saya juga menulis tentang tinju. Figur Wongso Suseno dan Thomas Americo juara tinju Asia Pasifik dari Indonesia, serta pilpres Amerika Serikat.

Di kamar tidur, saya tempel atlet-atlet olahraga ternama dan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter. Saya salah satu murid SD yang dapat surat dari Jimmy Carter, karena saya mengirim surat ke Kedubes AS di Indonesia. Minta buku-buku kisah petani kacang yang berhasil menjadi presiden.

Mengalahkan Gerald Ford. Jadi pada 1977 saat kelas 4 SD, saya sudah tertarik membaca berita-berita politik. Boleh sombong, nilai IPS dan pengetahuan umum saya di SD nyaris sempurna.

Gara-gara surat saya ke Kedubes-kedubes Blok Timur, papaku sempat diperiksa Komando Garnizun. Padahal saya juga mengirim surat ke kedubes-kedubes Blok Barat.

Papaku membawa buku-buku aku yang dikirim dari sejumlah kedubes beserta surat-surat balasan untuk barang bukti. Maaf merepotkanmu, Pa. Beliau tidak marah dan mendukung untuk melanjutkan hobiku membaca dan berkorespondensi.

Selamat Ginting
Selamat Ginting, (Kanan). Foto : Republika

Kembali ke Final Piala Dunia Junior 1979. Pada babak kedua. Di luar dugaan, Uni Soviet mencuri gol terlebih dahulu 1-0 untuk anak buah Pemimpin Soviet Leonid Breshnev. Dia adalah pengganti Nikita Kruschev. Bukan Nikita Mirzani ya. Amit amit.

Pertandingan tidak lama lagi akan berakhir. Argentina mengamuk. Dalam tempo delapan menit, tim Tanggo berhasil membalikkan keadaan. Mencetak tiga gol dalam tempo delapan menit.

Pencetak gol ketiga adalah si bogel, Diego Armando Maradona. Luar biasa, hanya tim kelas ‘dewa’ (bukan Dewa-19 Ahmad Dani ya) yang bisa melakukan gol-gol spektakuler.

Di situ saya akhirnya bisa mengerti mengapa pelatih Cesar Luis Menotti menunda Maradona masuk tim senior untuk Piala Dunia 1978. Rupanya itulah strategi Menotti agar Argentina juga bisa menjadi juara dunia junior.

Maka pada 1978-1979 sepakbola adalah Argentina. Argentina menjadi kiblat sepakbola dunia. Menggantikan raja Eropa, Jerman Barat dan Belanda serta raja Amerika latin, Brasil.

Sejak itu, saya mengikuti berita tentang Maradona. Ringkas saja, Piala Dunia 1986 saat saya baru lulus SMA, menjadi pengukuhan Maradona membawa Argentina juara dunia dengan aksi-aksinya yang fantastik. Termasuk gol tangan ‘tuhan’ ke gawang Inggris yang fenomenal.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, saya melihat video Maradona sedang memainkan bola. Saat itu pikiran saya mengawang-awang. Sang bintang usianya tak akan lama lagi nih.

Lelaki dengan postur 165 cm itu, sudah berbobot sekitar 128 kg. Padahal batas toleransi tinggi 165 cm adalah 75 kg. (Kalau 175 batas toleransi sekitar 85 kg dan seterusnya). Lebih dari itu, kerja jantung akan semakin berat. Potensi akhir hidupnya, jantung tidak akan mampu bekerja keras lagi.

Dalam tidur malam ini pun saya mimpi tentang Maradona. Bagi penggila sepakbola di Argentina, Lionel Messi adalah ‘nabi’. Sedangkan Maradona adalah ‘tuhan’. Selamat jalan Maradona (60 tahun). Terima kasih untuk kiprah hebatmu bagi sepakbola dunia. (R1)