oleh

PSBB Jakarta, Mimpi Buruk Petani Jeruk Karo

Kabanjahe, Karosatuklik.com – Masa Pandemi Covid-19, sungguh getir nasib petani dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika sejumlah komoditi hortikultura tidak memiliki harga jual, parahnya lagi disaat bersamaan harga jual produk andalan petani Karo, buah jeruk juga mengalami nasib yang sama.

Tidak tanggung-tanggung, banyak petani membiarkan buah jeruknya yang sudah cukup umur untuk dipanen dibiarkan membusuk di batangnya, ada lagi tetap memanennya walau sudah dipastikan rugi, dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup.

Keterpurukan ekonomi petani di Kabupaten Karo tak selamanya dihempas oleh biaya produksi yang tinggi. Harga pupuk, pestisida/insektisida, biaya upah tenaga kerja atau ongkos transport yang terus melambung naik boleh saja mengusik pikiran petani. Tapi, yang membuat mereka tak dapat tidur adalah harga jual yang rendah sekali. Bahkan lebih baik tak usah dipanen. Menyakitkan memang.

Hal itu diungkapkan salah seorang petani jeruk di Desa Kubu Colia Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo. S Sembiring (56), kepada karosatuklik.com, Sabtu petang (12/09/2020) di kebun jeruknya seluas dua (2) hektar.

“Semangat memanen, seketika hilang. Impian yang sudah melambung tiba-tiba buyar, karena harga jual jeruk di tingkat petani, hanya dihargai Rp3000 – 5000 per kilogram dari sebelumnya diatas kisaran Rp11.500 per kilogram,” kisah S Sembiring.

Dengan harga tersebut, jelas petani sangat rugi. “Disaat petani menghadapi situasi sulit seperti sekarang, pemerintah terkesan membisu tanpa memiliki daya, tak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Hanya satu dua orang saja petani tetap memanen buah jeruknya, akibat keterpaksaan untuk menutupi utang dan biaya kebutuhan anak sekolah, tapi kebanyakan membiarkan saja buah jeruknya membusuk. Pemandangan buah jeruk dibiarkan membusuk diladang bisa dijumpai sepanjang jalan ini, lontarnya.

Sementara bertani jeruk saat ini, biayanya cukup tinggi. Coba bayangkan harga pupuk dan pestisida sangat mahal, tiap tahun naik, tapi justru kebalikannya harga jual jeruk terus menurun.

Baca Juga :  Stadion Papua Bangkit Janjikan Pengalaman Luar Biasa
5
Wartawan karosatuklik.com sedang mengamati penangkaran bibit jeruk milik salah satu petani. (karosatuklik.com/ist)

“Pertanyaanya sekarang, dimana peran pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sekarang saja kondisi petani seperti berjalan dalam lembah kemiskinan, bagaimana pula nanti kalau harga-harga sembako sempat naik,” keluhnya.

Kita tahu, situasi sekarang ini semakin pelik, jika Covid-19 cepat teratasi, masa recoverinya (pemulihannya) butuh waktu 2 – 3 tahun, nah bagaimana pula jika sebaliknya, katakanlah masa 1 – 2 tahun kedepan, pandemi virus corona belum bisa diatasi, ekonomi kita akan kolaps, petani semakin terpuruk, curhatnya.

Jika benar, DKI Jakarta, maupun kota besar lainnya dalam waktu dekat ini betul-betul memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pencegahan Covid-19, akan berdampak negatif pada pengiriman logistik bahan pangan. “Mimpi buruk kepada produk pertanian kita disini, dampak virus corona ini memang sangat menyengat ke semua sektor,” lontar Sembiring.

Dampak Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi Asean

Senada, diungkapkan petani Desa Salit Kecamatan Tigapanah, A Ginting (51). Menurutnya, petani membiarkan buah jeruknya membusuk diladang, bukan cuma sekali ini saja. Sudah sering. Hal yang sama, bukan hanya dialami petani jeruk, tapi juga petani lain, seperti tanaman kubis dan wortel.

“Seandainya dipanen pun, hanya buat makin rugi saja. Bertani sekarang ini seperti main judi. Untung-untungan, miris melihat nasib petani, dari tahun ke tahun tidak ada perhatian berarti, penderitaan petani hanya sebagai objek politisi,” lirihnya.

Dampak perdagangan bebas masyarakat ekonomi Asean dan China-Asean Free Trade Area (CAFTA), produk pertanian mereka sudah membanjiri pasar-pasar kita, mulai dari pasar modern seperti supermarket, departement store, shopping centre, waralaba, minimarket, swalayan hingga pasar tradisional.

“Bila hal ini tidak disikapi secara serius dari sekarang, mulai dari daerah, provinsi hingga pusat, petani daerah ini akan menjadi penonton di daerahnya sendiri. Bila hal itu terjadi, sungguh getir kehidupan petani,” tutur Ginting. (R1)

Suka dengan tulisan ini? Yuk, Bagikan!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru