Lau Cih, Medan, Karosatuklik.com — Bupati Karo, Brigjen Pol. (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG, M.Kes, yang diwakili Wakil Bupati, Komando Tarigan, S.P, menghadiri even seni tradisi suku Karo “Forsase Mencari Bakat” (Festival Perkolong-kolong) sekaligus Pelantikan Pengurus Forsase Periode 2026–2029 di Balai Zeqita, Jalan Letjen Jamin Ginting, Lau Cih, Kecamatan Medan Tuntungan, Jumat (24/7/2026).
Turut mendampingi Wakil Bupati dalam acara tersebut, Kepala Disbudporapar, Juni Antomi Kemit, S.STP., M.Si. Kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo ini merupakan wujud dukungan nyata terhadap pelestarian seni, budaya, dan tradisi Karo, khususnya kesenian Perkolong-kolong yang sarat nilai sejarah, edukasi, serta identitas daerah.
Selain menjadi ajang unjuk bakat bagi generasi muda, festival tradisi budaya suku Karo ini bertujuan memperluas jangkauan seni Perkolong-kolong ke masyarakat luas.

Sementara itu, momentum pelantikan pengurus Forsase periode 2026–2029 diharapkan semakin memperkuat peran organisasi dalam merancang program pemajuan budaya serta mempererat sinergi bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.
Dalam bimbingan dan sambutannya, Wakil Bupati Komando Tarigan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana dan pengurus Forsase yang dilantik atas komitmen mereka menjaga eksistensi budaya daerah.
Menurutnya, pemeliharaan tradisi adalah tanggung jawab bersama yang mesti diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi penerus.
“Pemerintah Kabupaten Karo berkomitmen penuh mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya lokal. Seni Perkolong-kolong bukan sekadar hiburan, melainkan wadah yang mengandungi nilai-nilai adat, kebersamaan, dan kearifan lokal yang wajib kita jaga bersama,” tegas Komando Tarigan.
Pemkab Karo berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan rasa bangga dan cinta masyarakat terhadap budaya daerah, sehingga tradisi Karo tetap lestari sekaligus menjadi daya tarik wisata kebudayaan yang unggul di Kabupaten Karo.
Perpaduan Seni Bela Diri Ndikar dan Perkolong Kolong Dalam Seni Budaya Suku Karo

Perkolong kolong adalah satu bentuk kesenian tradisional suku Karo yang memadukan, syair, musik dan tarian. Hari ini, kesenian tradisi ini sudah menjelma dan bermetamorfosa demikian pesatnya.
Tak hanya di basis-basis kelompok masyarakatnya, kesenian tradisi ini juga hidup dan mulai berafiliasi dengan gesture budaya lain.
Hasilnya, kesenian suku Karo ini kian populer diminati oleh tidak hanya dari komunitas Karo, tetapi juga dari luar komunitas.
Kesenian perkolong kolong memiliki gerakan dasar Ndikar, sebuah kesenian bela diri Karo. Menurut instruktur tari dari Sanggar Karo Indonesia (SKI) Astron Tarigan, gerakan dalam dikar memiliki tiga unsur yang memiliki nilai filosofi hidup masyarakat Karo.
“Gerakan dalam kesenian perkolong kolong memiliki filosofi kehidupan orang Karo. Di dalam setiap gerakannya ada cerminan mehamat (menghormati), metenget (kewaspadaan) dan mediate (kepedulian),” ujar seniman perkolong-kolong Astron Tarigan seperti dilansir dari MedanBagus.com.
Duta Budaya Karo: Cerminan Mehamat, Metenget dan Mediate
Mehamat atau menghormati adalah nilai sakral yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Karo. Dalam kesenian perkolong kolong, hal ini adalah paku penting yang merekatkan antara syair, musik dan tarian.
“Penghormatan dan kesopanan adalah hal penting yang tidak bisa dilepas dari kesenian ini.
Seorang perkolong kolong, harus bisa menerjemahkan penghormatan dan menampilkan kesopanan dalam setiap penampilannya,” terangnya.
“Mehamat adalah identitas orang Karo. Maka, unsur ini harus dibawa setiap kali perkolong kolong dipertunjukkan,” ujar dia.
Demikian pula dengan metenget dan mediate. Menurut Astron, unsur-unsur yang diadobsi dari gerakan dikar ini tidak hanya memiliki nilai keindahan. Namun, filosofi keduanya adalah cermin yang hidup di komunitas Karo.
Seorang perkolong kolong yang mengisi suatu acara adalah duta kebudayaan suku Karo. Dia akan mengisahkan untuk apa sebenarnya sebuah acara itu digelar. kepekaan dan spontanitas di dalam pertunjukan mutlak diperlukan.
“Seorang perkolong kolong memiliki kecerdasan seni yang tajam. Dia harus bisa masuk ke dalam suasana suatu acara agar bisa menyeret penontonnya masuk lebih dalam lagi.
Dan, yang lebih penting, kecerdasannya membangun narasi cerita yang spontan dalam kisaran waktu yang tidak bisa dibilang pendek akan diuji,” kata dia.

“Gerakan dalam kesenian perkolong kolong memiliki filosofi kehidupan orang Karo. Di dalam setiap gerakannya ada cerminan mehamat, metenget dan mediate. Memang apa yang banyak terjadi hari ini, seni perkolong kolong hanya sekadar menjadi hiburan yang tidak lagi menampilkan filosofi keindahan gerakan,” pungkas Astron.
Suka tak suka, popularitas perlahan-lahan akan mengikis tatanan konstruksi sebuah bangunan. Ibarat sebuah rumah, kesenian perkolong kolong juga mengalami ujian ketahanan yang diberikan musim dan cuaca. Semoga seni budaya tradisi ini tetap lestari.
Seperti yang disampaikan Wakil Bupati Karo, Komando Tarigan. “Seni Perkolong-kolong bukan sekadar hiburan, melainkan wadah yang mengandungi nilai-nilai adat, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat suku Karo yang wajib kita jaga bersama,” tegas Komando Tarigan. (R1)













Komentar