Indonesia Resmi Operasikan Jet Tempur Super Canggih Rafale dan Terapkan Strategi Modernisasi Angkatan Udara

Nasional3274 Dilihat

Jakarta, Karosatuklik.com – Angkatan Udara Indonesia baru saja mengoperasikan jet tempur Rafale pertamanya sebagai bagian dari upaya modernisasi kekuatan militernya dan menggantikan pesawat yang lebih tua seperti F-5 dan F-16.

Angkatan Udara Indonesia secara resmi telah mengoperasikan empat jet tempur Rafale buatan Prancis pertama mereka. Upacara penyerahan tersebut diadakan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta, dan dihadiri oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Sebuah tonggak penting dalam proses modernisasi

Dalam penyerahan ini, Indonesia menerima total 6 pesawat Rafale beserta peralatan pendukungnya, termasuk 4 pesawat komersial Falcon 8X, 1 pesawat angkut dan pengisian bahan bakar serbaguna Airbus A400M MRTT, dan sistem radar pencegat berbasis darat Thales GM403. Pesawat-pesawat ini akan ditugaskan ke Skuadron Udara ke-12.

Peristiwa ini menandai langkah maju yang signifikan setelah bertahun-tahun diliputi ketidakpastian tentang masa depan armada jet tempur Indonesia.

Kontrak untuk 42 pesawat Rafale, senilai 8,1 miliar dolar AS, ditandatangani pada Februari 2022, dengan tujuan meningkatkan kemampuan tempur di tengah lanskap keamanan regional yang bergejolak.

Pesawat tempur super canggih Rafale kini resmi bertugas di Angkatan Udara Indonesia.

Analisis teknis: Kelebihan dan kekurangan Rafale

Pesawat tempur Rafale diharapkan dapat sepenuhnya menggantikan pesawat buatan AS yang lebih tua seperti F-5, F-16, dan mungkin beberapa Su-27 dan Su-30 Rusia.

Namun, secara teknis, Rafale termasuk dalam kelas pesawat ringan hingga menengah, dengan dimensi dan tenaga mesin yang sebanding dengan F-16.

Dibandingkan dengan jet tempur berat seperti Su-27 atau Su-30, Rafale memiliki jangkauan yang jauh lebih pendek.

Secara khusus, sistem radar Rafale relatif kompak, yang dapat menimbulkan keterbatasan tertentu dalam misi patroli dan pertahanan udara di wilayah kepulauan yang luas dan membentang ini.

Alasan mengapa Indonesia tidak memilih Su-35. Di masa lalu, Indonesia menandatangani kontrak pembelian jet tempur Su-35S dari Rusia pada Februari 2018.

Ini adalah pesawat berat dengan jangkauan jauh dan sistem radar tiga kali lebih besar dari Rafale. Namun, kesepakatan tersebut dibekukan karena tekanan sanksi ekonomi AS.

Ketidakmampuan untuk mengakses Su-35 memaksa Indonesia untuk beralih ke pemasok Barat dan, baru-baru ini, China. Yang perlu dicatat, Jakarta menandatangani perjanjian untuk membeli 42 pesawat tempur J-10C dari China pada Oktober 2025 setelah pesawat tersebut menunjukkan kemampuan tempurnya dalam situasi dunia nyata.

Prospek untuk skuadron di masa depan

Meskipun memiliki pesawat Rafale dan J-10C, Angkatan Udara Indonesia masih menghadapi kekurangan jet tempur berat jarak jauh. Untuk mengisi kesenjangan ini, para pengamat percaya Jakarta mungkin akan mempertimbangkan dua opsi:

  • Su-57 (Rusia): Jet tempur generasi kelima yang menggantikan Su-35, membantu menciptakan model koordinasi “tinggi-rendah” dengan Rafale.
  • J-35 (China): Sebuah jet tempur siluman bermesin ganda dengan jangkauan yang lebih unggul daripada pesawat ringan yang ada saat ini.

Diversifikasi sumber pasokan senjata menunjukkan strategi fleksibel Indonesia untuk menjamin keamanan nasional sekaligus berupaya membangun ekonomi yang mampu menahan sanksi eksternal. (R1)

Bagikan Ke :

Komentar