oleh

Mengenang Seniman Besar Tanah Karo Hendry Bangun (21 November 2010 – 21 November 2020)

Lang adi aku turang kam kel ateku
Man lape-lape tendiku nggeluh
Tapi labanci turang ateku jadi
Peraten “Tuhan Dibata” nirangke kita

Meganjangsa bide-bidena
Mekapalsa baleng – balengna
Siman tingkahen njumpai kena
(Perpeltep Ketang – Drs Hendry Bangun)

Demikian tembang melankolis ini saya lantunkan, mengiringi kegalauan hati dan suara tersekat, pasca menerima kabar kepergian Drs Hendry Bangun menghadap Tuhan Minggu siang 21 November 2010, sepuluh tahun lalu. Seniman “besar” Bumi Turang meninggalkan komunitasnya dan mewariskan karya-karya akbar yang melegendaris.

Hikmah apa sebenarnya yang dapat diambil dari kepergian pria yang lahir lahir di Desa Suka 6 Mei 1956 ini ? Secara singkat dapat dikatakan yakni pembelajaran.Ya, ternyata Tuhan Maha Pencipta, lebih sakti ketimbang mahluk yang ada di bumi ini.

Memang, ratusan karya lagu, drama panggung maupun sinetron yang ditorehkan sang maestro seni, Hendry Bangun di blantika musik Karo tidak melayang sia-sia dan bukan sebatas “Layam-Layam Sitangkai Ndoli”. Sebaliknya, bisa bisa menjadi “Tawar Bangger” bagi seluruh warga Karo dimanapun berada, ketika merindukan barisan nada-nada khas suami Asmaria Br Ginting ini.

Bagi klan Tambar Malem tanpa mengenyampingkan penghargaan kepada klan lain, terbukti banyak tonggak sejarah di seni Karo sudah dilakukan. Sebut saja Darmi Peranginangin yang sangat sederhana itu melahirkan tembang melankolis yang sukar dicari tandingannya.

Ingat lagu “Belo La Ertangke” atau “Ula Salahi Si Laersalah”?. Itu sebagian diantara karyanya melegendaris hingga sekarang. Samion Pinem dan Tio Fanta generasi Tambar Malem yang melejit lewat bendera kelompok musik “Bengkel Junior”. Kelompok yang kuat dalam pemilihan lagu pop dengan lead saxsophone dan lagu abadinya “Ngerondong

Ada lagi generasi Tambar Malem yang sangat minimalis dalam pemanfaatan musik di awal karirnya. Dia adalah Pinta Bangun yang kondang dengan karyanya bertajuk “Pengadilan Ngena Ate” . Sungguh luar biasa makna dan pesan-pesan filosofis di lagu yang abadi sepanjang masa ini.

Lain lagi Raja Edward Sebayang. Karyanya cukup deras degan label bendera KES 21, diantaranya “Ketak-ketak Lau Bampu”. Selain mencipta, ia juga bernyanyi dalam setiap album rekamannya.

Baca Juga :  10 Bulan Pandemi, Kasus Terkonfirmasi Positif di Karo 331

Masih ada lagi catatan lain semisal Asmani Peranginangin, Panca Sebayang dan Faisal Peranginangin. Masing-masing pernah menorehkan karyanya di benak penggemar lagu daerah Karo.

Bergantian muncul nama penyanyi Tambar Malem diantaranya Arus Perangin-angin, Maria Magdalena Br Keliat, Sri Malem Br Bangun, Erwina Hany Br Bangun, Simson Bangun, John Lewi Keliat serta Netty Vera Br Bangun. Seluruhnya tampil apik dengan tatanan karya serta sosok yang unik dan spesial. Menyebut nama – nama diatas belum sempurna tanpa melirik tonggak sejarah seni modern etnis Karo.

Hendry Bangun, PNS yang pernah bergabung di Riamor Band Batukarang ayah dari Kariady Bangun, Eviany Br Bangun, SE, Sastroy Bangun, S.Sos, Revikadeny Br Bangun ini, sangat energik dan ramah manakala diajak membicarakan karya seni. Ketika dirawat di RS Pirngadi Medan, saya sempat meminta agar seluruh karyanya di dokumentasikan. Jawabnya, nanti apabila kesehatannya sudah prima.

Tanya memang tidak terjawab sampai sekarang seakan menyebutkan karya nyata dalam seni dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemiliknya. Lihat saja karya sinetronya yang pernah menjuarai lomba antara TVRI se-Indonesia, tidak banyak yang tahu.

Bahkan di jejaring sosial nama Hendry Bangun malah tidak di temukan profilnya. Padahal lewat “Beru Rengga Kuning” (1990) dan “Perlanja Sira” (1993), ia buktikan kehebatannya menyabet juara 2. Belum lagi “Mate ras Mate” yang booming, “Tawar Gegeh” dan drama rohani meramaikan HUT Moria ke-50.

Pertua Emeretus Drs Hendry Bangun dipermuliakan di Jambur Lige di hadapan seluruh keluarga dan kerabat. Ia diabadikan dalam pakaian kebesaran seorang “Pertua” GBKP lengkap dengan jas dan stolanya.

Bumi Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, kini mendekap putra terbaik yang kembali ke asalnya. Seabreg kesan yang diwariskannya kepada keluarga, pemerintah maupun masyarakat lainnya sudah menjadi konsumsi rutin. (Budayawan dan Jurnalis Drs Jenda Bangun)

Suka dengan tulisan ini? Yuk, Bagikan!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 komentar

Berita Terbaru