100 Hari Brigadir J Terbunuh

Headline1622 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Butuh waktu 100 hari lebih untuk membawa Ferdy Sambo ke pengadilan. Mungkin banyak hal tak terlihat di publik harus diselesaikan dulu. Tetapi, apapun itu, akhirnya Ferdy Sambo diadili.

Di sidang perdana kemarin (17/10/2022), kita bisa mendengarkan langsung dalam tuntutan jaksa bagaimana peristiwa ‘horor’ itu terjadi. Seorang polisi berpangkat brigadir dieksekusi atasannya, jenderal bintang dua, dan orang-orangnya secara biadab.

Konon di persidangan-persidangan berikutnya akan terungkap kengerian-kengerian yang lain. Kita menunggu dengan harap-harap cemas, semoga hakim memberikan hukuman yang adil. Hanya ada tiga pilihan: Hukuman mati, hukuman seumur hidup, atau penjara 20 tahun.

Setelah 100 hari Brigadir J terbunuh, ada banyak peristiwa terkuak. Institusi kepolisian seolah dihajar habis-habisan oleh banyak kasus yang mencoreng citra lembaga dengan tagline ‘presisi’ itu.

Dari yang remeh temeh seperti kelakuan polisi yang menjilati kue ulang tahun TNI, kasat narkoba level Polres yang malah jadi kurir narkoba ke klub malam, anggota Polri yang nyambi jadi perampok bahkan sudah berkali-kali melakukannya, sampai yang fantastis: Kapolda Sumbar, Irjen Teddy Minahasa, yang menjual 5kg barang bukti narkoba untuk diedarkan di wilayah kerjanya. Miris!

Citra Polri terjun bebas

Akibat rentetan peristiwa-peristiwa memalukan itu, Polri pun terpuruk ke level terbawah tingkat kepercayaan publik (dari 80,2% pada November 2021 ke 54,2% pada Agustus 2022). Bahkan anak-anak SD bisa meneriaki sekumpulan polantas yang sedang melakukan razia, “Sambo! Sambo! Sambo! Huuuu!”

Ada apa dengan polisi kita? Bukankah seharusnya mereka menjadi para panutan dalam hal menaati hukum dan jadi warga negara yang patuh? Mengapa justru ada banyak polisi melakukan tindakan sebaliknya, bahkan pada tingkatan yang paling ekstrem?

Kalau polisi menjadi pengedar narkoba, pembunuh, perampok, beking bisnis judi, apa jadinya negara ini–bahkan mungkin para bandit dan penjahat pun minder dibuatnya! How low can you go?

Belum lagi mereka yang pamer kekayaan, menunjukkan gaya hidup hedonistik, bersikap angkuh dan congkak karena merasa punya kuasa. Orang sudah muak mendengar strobo polisi di jalanan. Tidak mau mengantre, selalu ingin diistimewakan.

Jangan salahkan publik kalau mereka sudah muak dengan semua tingkah polah polisi semacam itu. Jangan salahkan juga netizen kalau mereka memilih melakukan generalisasi bahwa semua polisi itu bobrok, meski tentu saja sebenarnya masih banyak polisi baik dan jujur.

Lihatlah meme-meme di media sosial, grafiti-grafiti yang resah di tembok kota, kata-kata yang dicetak di kaus anak-anak muda: “Rajin baca jadi pintar, malas baca jadi polisi!” Kalau ini terus dibiarkan, lama-lama orang akan melawan pada polisi. Semua itu mulai terjadi, bukan?

Jika Anda polisi, keluarga atau kerabat polisi, tentu menyakitkan membaca semua ini. Anda akan mengatakan bahwa tidak semua polisi buruk. Tentu saja Anda benar. Masalahnya memang saat ini citra polisi sedang buruk-buruknya, akibat kelakuan oknum yang terlalu banyak itu.

Dua minggu lalu saya mengobrol dengan seorang polisi berpangkat rendah, petugas Polsek di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selepas mengikuti satu pengajian, Pak Polisi itu curhat pada saya, “Sekarang polisi lagi banyak diomongin orang, Pak. Diumbar yang jelek-jeleknya. Padahal nggak semua dari kita begitu. Lebih banyak yang baik,” curhatnya.

Saya hanya bisa tersenyum. Mungkin ia salah satu korban polisi baik yang dianggap masyarakat buruk. Kasihan polisi-polisi baik sepertinya. Kasihan keluarganya. Tapi, sejujurnya, dalam hati, melihat seragamnya yang mentereng, ada sedikit rasa tak percaya di hati saya. Seragam itu sudah cukup lama jadi teror

Presiden sampai turun tangan

Peserta aksi dari Tim Advokat Penegakan Hukum dan Keadilan (TAMPAK) menunjukan poster Alm Brigadir Yosua Hutabarat kepada anggota polisi saat aksi seribu lilin dan doa bersama di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (22/7/2022). Dalam aksi tersebut peserta aksi juga meminta agar penangangan kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat di kediaman Irjen Pol Ferdy Sambo dilakukan secara transparan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.

Bagaimana hari ini kita bisa mempercayai polisi, setelah 100 hari kematian Brigadir J, setelah semua cerita buruk tentang polisi membombardir kita secara membabi buta? Mungkin ini saatnya polisi untuk berbenah. Menjawab panggilan nurani. Mengerjakan hal yang benar. Mengembalikan lagi kepercayaan publik–meski tidak mudah.

“Turuti nasihat yang mulia dari Teddy Minahasa Putra yang beredar di publik,” kata Menkopolhukam Mahfud MD (16/10/2022). “Tapi jangan tiru tingkah lakunya,” lanjutnya. Suatu ketika memang Jenderal Teddy pernah berpesan di hadapan ratusan anak buahnya, “Kalau ingin kaya jangan jadi polisi! Polisi itu pengabdian, rezeki mengikuti.”

Padahal Teddy Minahasa adalah polisi paling kaya di Republik dengan harta lebih dari Rp29,9 miliar. Itu baru versi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), berapa banyak yang tidak dilaporkan?

Dalam 100 hari setelah Brigadir J terbunuh, Presiden mengumpulkan seluruh pejabat polisi di Istana Negara. Level Kapolres, Kapolda hingga perwira tinggi di Mabes. Ini peristiwa simbolis yang boleh jadi baru pertama kali terjadi dalam sejarah.

Perwira-perwira yang hadir itu tak boleh memakai topi atau tutup kepala, tak boleh membawa tongkat komando, dan tak boleh membawa handphone –cukup buku catatan dan alat tulis. Dalam pertemuan itu presiden marah besar.

“Saya ingatkan yang namanya Kapolres, yang namanya Kapolda, yang namanya seluruh pejabat utama, perwira tinggi, ngerem total masalah gaya hidup! Jangan gagah-gagahan karena merasa punya mobil bagus, atau motor gede yang bagus, hati-hati, hati hati, saya ingatkan hati-hati!” pesannya, geram. Pejabat-pejabat polisi di hadapannya hanya bisa tertunduk sambil pura-pura mencatat.

Dalam sebuah wawancara televisi, mantan Kabareskrim Polri periode 2008-2009, Komjen Pol Susno Duadji, menyatakan bahwa tiga permintaan presiden saat seluruh pejabat Polri ke Istana punya makna tersendiri yang simbolis dan mendalam (16/10/2022).

Jangan pakai topi atau tutup kepala, maknanya polisi harus membuka pikirannya, open minded, harus siap menerima masukan dan kritik. Tak boleh membawa tongkat komando dan ajudan artinya jangan gagah-gagahan, jangan sok kuasa di hadapan rakyat, karena sejatinya polisi adalah pengayom rakyat. Dan jangan membawa ‘smartphone’ artinya jangan bermewah-mewahan, karena smartphone adalah simbol kemewahan.

Kapolri berbenah atau mundur

Akhirnya, tak ada pilihan lain bagi Kapolri, tak ada waktu lagi baginya, reformasi di tubuh Polri harus segera dilakukan secara menyeluruh. Polisi harus berubah. Dari level terbawah sampai tertinggi. Presiden sudah memanggil seluruh pejabat polisi, meng-override tugas Kapolri, artinya ini sudah gawat. Kalau tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat, Kapolri harus punya pertanggungjawaban moral untuk mundur.

Inginnya kita tidak percaya pada bisik-bisik ini di tengah masyarakat, “Masuk jadi anggota kepolisian itu mahal, sampai harus jual sawah, jual tanah, makanya saat menjabat harus bisa balikin modal.” Tapi kalau banyak polisi yang terindikasi korup, dengan gaya hidup tidak masuk akal, bagaimana menolak kebenaran bisik-bisik itu? Artinya, sejak proses rekrutmen pun kepolisian harus berbenah!

Kita mengkritik polisi karena ingin polisi baik. Jangan jadi polisi penjahat seperti polisi-polisi Amerika Latin yang digambarkan di film-film Hollywood, atau seperti polisi India yang korup dan kurang ajar di film-film Bollywood. Kita ingin polisi Indonesia berwibawa, dihormati dan jadi teladan di tengah masyarakat.

Kita tahu, polisi adalah simbol negara, ia harus kuat dan kokoh, harus baik dan benar, karena negara tanpa polisi sebenarnya akan kacau. Kita berharap ini jadi momentum besar, momentum yang mengubah keadaan.

Setelah 100 hari kematian Brigadir J, buktikan bahwa tak ada geng narkoba, geng judi, geng tambang di tubuh polisi. Buktikan bahwa konspirasi Satgassus itu tidak benar. Bahwa Konsorsium 303 itu harus dilawan. Buktikan bahwa tak ada perang bintang untuk berebut jabatan. Bersih-bersih. Tumpas semua itu. Jika polisi baik, rakyat di belakang akan mendukung. (Inilah.com)