oleh

Catatan Redaksi, Memotret Pertarungan Gagasan

-Berita, Politik-1.059 x Dibaca

Kabanjahe, Karosatuklik.com – Kontestasi politik tak ubahnya perhelatan seni. Politik adalah seni beradu gagasan. Seni bukan semata tentang ‘apa (what)’ yang dilakukan untuk menang, melainkan juga ‘bagaimana (how)’ cara yang dilakukan untuk meraih kemenangan.

Setidaknya, minimal ada tiga alasan debat publik pilkada perlu dilaksanakan. Pertama, sebagai panduan untuk memilih siapa yang layak untuk jadi pemimpin daerah kedepan. Kedua, dalam demokrasi modern, debat sebagai salah satu instrumen penting menakar kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin daerah. Ketiga, meyakinkan swing voters menentukan pilihannya.

Debat di masa pandemi, sangat strategis mengenalkan visi misi dan program pasangan calon kepala daerah. Karena bisa menjangkau pemilih lebih massif melalui media penyiaran.

Para calon kepala daerah harus mampu mengelaborasi gagasan dan menunjukkan kapasitasnya layak dan pantas sebagai calon dan Wakil Bupati “Rakyat Sirulo”. Bukan sekedar seperti ceramah yang monoton kering akan gagasan.

Karena, publik harus mengetahui persis gagasan calon memperbaiki keadaan pada masa dan setelah pandemi berlalu. Redaksi Karosatuklik.com menggarisbawahi bahwa, poin itu sangat penting. Sebab, dampak terhadap kehidupan masyarakat sangat luas dan kompleks. Termasuk di dalamnya soal dampak ekonomi dan kesehatan.

Baca Juga :  Nawal Lubis Lantik Ketua TP PKK dan Dekranasda Kabupaten Karo Vera Rika Theopilus Ginting

Debat publik perdana yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Karo, Rabu 11 November 2020, Pukul 13.00 – 15.00 WIB, akan membahas mengenai kesejahteraan masyarakat dan memajukan daerah.

Penayangan debat diharapkan dapat meningkatkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) pada 9 Desember 2020 mendatang ditengah pandemi virus corona.

Kelima paslon sebagai berikut :

Tarung gagasan ke lima paslon Bupati dan Wakil Bupati masa pandemi ini diharapkan mampu menampilkan dan menyampaikan profil, visi dan misi serta program kerja yang jelas dan terukur, agar calon pemilih bisa mengenali calon pemimpinnya dengan baik.

Baca Juga :  Pemkab Karo Mendukung SUMP Mebidangro

Dengan panelis 1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MH, 2. Dr. Bengkel Ginting, MSi, 3. Prof. Agustinus Purba, Sth. MA, 4. Bodan Ratna Br Ginting, 5. Robert Sinuhaji, SE.

Diperoleh informasi, debat dibagi menjadi enam segmen.

Segmen pertama, Kelima paslon akan menyampaikan visi dan misi masing-masing bila terpilih memimpin Kabupaten Karo.

Segmen kedua masuk dalam sesi pendalaman visi misi. Paslon akan menjawab pertanyaan yang disiapkan tim pakar.

Pada segmen ketiga, paslon akan menjawab pertanyaan yang mereka pilih dari dalam fishbowl.

Pada segmen keempat dan kelima, para calon diberi kesempatan untuk saling melempar pertanyaan.

Di segmen keenam, masing-masing paslon diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan penutup (Closing Statement).

Selain itu, semua pasangan dari masing-masing calon agar mentaati peraturan yang tertuang dalam pakta integritas yang telah ditandatangani, diantaranya harus disiplin mentaati protokol kesehatan dan tidak diperbolehkan mengumpulkan masa dalam jumlah banyak.

Baca Juga :  Rapat Virtual Dengan Presiden RI, Bupati Karo : Sinergi dan Koordinasi Mengantisipasi Gelombang Ketiga Corona

Sekedar catatan, diharapkan pertanyaan yang diracik oleh panelis nantinya tidak terlalu umum dan normatif. Pertanyaan lebih tajam dan substantif dengan berbasis kedaerahan.

Data real juga diminta ditampilkan sesuai pertanyaan masing-masing panelis, sehingga masyarakat dihadirkan gagasan yang mencerahkan dan membangun daerah yang disampaikan paslon.

Untuk moderator, pertanyaan yang diulang mestinya tidak terjadi karena jalannya debat milik moderator, tak perlu confirm ke audience. Hal seperti itu biasa terjadi pada debat publik. Straight waktu jangan terlalu singkat, sehingga gagasan yang disampaikan paslon tidak utuh dan masyarakat tidak mampu menilai gagasan yang tidak utuh. (Redaksi)

Suka dengan tulisan ini? Yuk, Bagikan!

Komentar

Topik Terkait