Konflik Laut Merah Lagi-lagi Makan Korban Baru: Jerman

Nasional1412 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Eskalasi di Timur Tengah yang diakibatkan konflik bersenjata antara Israel dan Palestina di Gaza terus menimbulkan efek global. Pasalnya, perang keduanya telah membuat seluruh Timur Tengah, yang merupakan kawasan vital global, bergejolak.

Kelompok Houthi di Yaman baru-baru ini telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang terafiliasi atau terkait dengan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Hamas dan Gaza. Ini memicu gangguan di perairan itu dan memaksa banyak kapal memutari Benua Afrika untuk mencapai Laut Tengah dan Eropa.

Ini pun akhirnya membuat gejolak perdagangan dan industri. Impor penting dari Asia ke Eropa mulai dari suku cadang mobil dan peralatan teknik hingga bahan kimia dan mainan saat ini membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai karena pengirim kontainer telah mengalihkan kapal di sekitar Afrika.

Ekonomi Jerman, yang terbesar di Eropa, tak luput dari dampak gangguan ini. Meskipun industri Jerman sudah terbiasa menghadapi gangguan pasokan akibat pandemi dan perang Ukraina, dampak berkurangnya lalu lintas melalui arteri perdagangan mulai terlihat.

Pabrik baru Tesla di Berlin misalnya memutuskan untuk menangguhkan beberapa produksi karena kekurangan komponen. Ini disebabkan bergantungnya raksasa otomotif itu dengan komponen dari Asia, yang biasanya dikirim melalui Laut Merah dan Terusan Suez.

Selain otomotif, industri kimia juga terdampak. Perusahaan kimia Gechem misalnya, mengaku menurunkan produksi bahan kimia pencuci piring dan tablet toilet karena tidak dapat memperoleh cukup trinatrium sitrat serta asam sulfamik dan asam sitrat dari Asia.

“Departemen pengadaan saya saat ini bekerja tiga kali lebih keras untuk mendapatkan sesuatu,” kata Martina Nighswonger, CEO dan pemilik Gechem GmbH & Co KG.

Oleh karena itu, perusahaan itu sedang meninjau sistem kerja tiga shiftnya. Nighswonger menambahkan bahwa dampak buruk dari keterbatasan transportasi dapat tetap menjadi masalah setidaknya pada paruh pertama tahun 2024.

“Jika kita mendapatkan tiga muatan truk, bukan enam, setiap pelanggan hanya mendapat sebagian dari jumlah pesanan mereka, tapi setidaknya semua orang mendapat sesuatu,” tambahnya.

Ketergantungan Asia

Badan industri Jerman, VCI, telah lama menyoroti ketergantungan pada impor dari Asia. Mereka mengatakan bahwa meskipun penghentian produksi harus dibatasi hanya pada kasus-kasus tertentu, penundaan impor melalui Laut Merah merupakan beban tambahan bagi industri yang sudah melemah.

Dampaknya terutama terlihat pada perusahaan-perusahaan kimia berukuran menengah dan khusus,” kata Kepala Ekonom VCI Henrik Meincke, seraya menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut seringkali mendapatkan bahan mentah dalam jumlah besar dari Asia.

Krisis transportasi Laut Merah terjadi ketika perekonomian Jerman berada di bawah tekanan akibat resesi, serta tingginya biaya tenaga kerja dan energi. Menurut S&P Global, sektor bahan kimia di Eropa, bersama dengan mobil dan ritel, dipandang sebagai sektor yang paling rentan.

Selain impor yang tertunda, beberapa produsen mengeluhkan biaya bahan bakar yang lebih tinggi, karena kapal tanker yang mengangkut bahan mentah penting membutuhkan waktu sekitar 14 hari lebih lama untuk sampai. Mereka mengaku biaya ini hanya dapat dibebankan sebagian kepada pelanggan.

Meski begitu, Meincke dari VCI mengatakan melihat peluang yang cukup rendah untuk menghentikan produksi secara luas bahkan ketika situasi di Laut Merah masih tegang.

“Dengan lemahnya permintaan, birokrasi dan tingginya biaya energi dan bahan baku, sektor ini sudah cukup mengkhawatirkan,” tambahnya. (Foto: Helikopter militer Houthi terbang di atas kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah dalam foto yang dirilis 20 November 2023. (via REUTERS/HOUTHI MILITARY MEDIA). (CNBC Indonesia)

Baca Juga:

  1. Peduli Warga Gaza, KRI dr. Radjiman Bawa Misi Kemanusian Indonesia
  2. Antisipasi Ancaman Saat Melintasi Kawasan Rawan Serangan di Laut Merah, KRI Frans Kaisiepo-368 Siaga Perang
  3. Ciptakan Rasa Aman, Satgas Indo RDB XXXIX-E/MONUSCO Long Range Mission (LRM) Di Desa Boya

Komentar