Lebih 80 Hari Perang Israel-Hamas, Gaza Masih Memanas

Catatan Redaksi1827 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Pertempuran antara Israel dengan Hamas di Gaza sudah berlangsung hampir tiga bulan, dan operasi darat militer Israel sedang memanas di bagian selatan wilayah kantong Palestina itu setelah berakhirnya gencatan senjata yang hanya berlangsung tujuh hari.

Kepala Staf Umum Israel Herzi Halevi mengatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah memulai operasi darat di Jalur Gaza. “Setelah dua bulan perang, pasukan kami kini mengepung kawasan Khan Younis di Jalur Gaza bagian Selatan. Bersamaan dengan itu, kami terus mengokohkan prestasi kami di Jalur Gaza bagian utara,” katanya dengan pongah.

IDF sebelumnya memberi kesempatan bagi warga sipil untuk mengevakuasi diri dari Gaza Utara ke Gaza Selatan, dan kini melanjutkan pertempuran di Khan Younis setelah berakhirnya gencatan senjata di Gaza.

“Mereka yang berpikir bahwa IDF tidak akan tahu bagaimana melanjutkan pertempuran setelah gencatan senjata adalah salah. Banyak militan Hamas, termasuk para komandan senior, telah dihancurkan dalam beberapa hari terakhir,” lanjut Halevi.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat setidaknya 20.700 lebih warga Palestina telah tewas sejak eskalasi dimulai pada 7 Oktober 2023. Dari jumlah total korban tewas, 8.000 di antaranya adalah anak-anak dan 6.200 perempuan.

Kementerian itu juga menyatakan bahwa terdapat 54.000 orang yang terluka akibat pengeboman Israel di Gaza. Mereka pun mencatat masih ada sekitar 7.000 orang yang dinyatakan hilang yang sebagian besar kemungkinan tertimbun reruntuhan puing bangunan yang hancur lebur.

Sebanyak 310 petugas medis, 35 personel pertahanan sipil, dan 97 jurnalis tewas dalam serangan Israel, imbuh kementerian tersebut.

Menghitung korban tewas merupakan sebuah tantangan di zona perang mana pun. Para dokter di Gaza mengatakan jumlah korban tewas kemungkinan akan jauh lebih tinggi karena tidak termasuk jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang hancur atau mereka yang tidak dibawa ke rumah sakit.

Perang di Gaza

Konflik Israel dengan Hamas kembali pecah sejak 7 Oktober 2023. Hamas menyerang Israel Selatan secara tiba-tiba dan membunuh 1.200 orang. Lebih dari 200 sandera dibawa kembali ke Gaza.

Israel membalas dengan memblokade total Jalur Gaza, mengebom rumah-rumah warga sipil, menutup bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, bahkan membombardir rumah sakit.

Beberapa serangan Israel juga mengarah ke wilayah Lebanon dan Suriah, serta serangan juga dilaporkan terjadi di Tepi Barat. Israel mengeklaim bahwa rumah sakit digunakan oleh Hamas sebagai pusat komando, namun hal itu dibantah oleh kelompok pejuang kemerdekaan Palestina itu.

Halaman sekitar Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Utara terkena serangan rudal Israel. Direktur RSI di Gaza Atef Kahlout mengatakan rumah sakit itu hancur sebagai akibat dari pengeboman yang dilakukan Israel.

Selain itu, pasukan Israel juga mengepung rumah sakit Al-Shifa, mencegah ambulans memasuki atau meninggalkan fasilitas tersebut, pada Sabtu, 11 November 2023.

Seorang koresponden mengatakan bahwa para penembak jitu dan artileri Israel disinyalir akan menargetkan siapapun yang berupaya bergerak ke luar rumah sakit. Militer Israel menutup gerbang depan rumah sakit terbesar di Gaza itu.

“Mereka menyerang dan menghancurkan gerbang depan kompleks medis utama di Jalur Gaza karena pasien dan ribuan warga Palestina masih berada di halaman rumah sakit ini,” katanya seperti dilansir Al Jazeera, Minggu, 12 November 2023.

Gencatan Senjata

Gencatan senjata di Gaza dimulai dengan pembicaraan yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, serta Amerika Serikat untuk menentukan titik temu antara Hamas dengan Israel.

Kesepakatan yang telah dicapai, membuat kedua belah pihak, yakni Hamas dan Israel harus mematuhi implementasi perjanjian gencatan senjata yang dimulai sejak Jumat, 24 November 2023.

Hamas telah mengumumkan kesepakatan dengan Israel untuk melakukan gencatan senjata selama empat hari di Jalur Gaza. “Setelah berhari-hari perundingan yang alot, kami mengumumkan bahwa kami mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata kemanusiaan selama empat hari berkat upaya berkelanjutan dan terampil dari Qatar dan Mesir,” kata pihak Hamas.

Selain itu, sebagai bagian dari gencatan senjata semua lalu lintas udara juga akan dihentikan sepenuhnya di bagian Selatan dan Utara Gaza, yang akan dihentikan setiap hari antara pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat.

Tercapainya gencatan senjata membuat ratusan truk yang membawa bantuan kemanusiaan, darurat dan medis, serta bahan bakar akan diizinkan memasuki Jalur Gaza, tanpa kecuali, di utara dan selatan.

Tentunya gencatan senjata bisa dicapai dengan adanya syarat yang harus dipenuhi antara kedua pihak. Hamas menjanjikan akan membebaskan 50 sandera di Gaza yang merupakan warga Israel hingga Warga Negara Asing (WNA) sebagai imbalan atas pembebasan 150 tahanan dari penjara Israel.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan menghentikan permusuhan selama satu hari untuk membebaskan 10 sandera. Kini lebih dari 200 orang masih ditahan oleh militan Hamas. Kementerian Kehakiman Israel menerbitkan daftar 300 tahanan Palestina yang dapat dibebaskan berdasarkan kesepakatan tersebut, pada Rabu, 22 November 2023.

Netanyahu menekankan bahwa Israel memprioritaskan pemulangan seluruh sandera sesuai dengan rencana yang telah disetujui, namun tidak berarti bahwa Hamas di Jalur Gaza akan diberikan kebebasan total. Kemudian, gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diperpanjang hingga hari ketujuh, kedua belah pihak mengumumkan hanya beberapa menit sebelum perjanjian tersebut berakhir.

Militer Israel mengatakan bahwa gencatan senjata pertempuran di Jalur Gaza akan terus berlanjut mengingat upaya para mediator untuk melanjutkan proses pembebasan sandera, dan tunduk pada ketentuan perjanjian, pada Kamis, 30 November 2023.

Adapun dalam pernyataan terpisah, Hamas mengatakan kesepakatan telah dicapai untuk memperpanjang gencatan senjata sementara. Qatar yang menjadi penengah antara kedua belah pihak, mengatakan perjanjian itu diperpanjang dengan ketentuan yang sama seperti sebelumnya, di mana Hamas membebaskan 10 sandera Israel setiap hari dengan imbalan 30 tahanan Palestina.

Perundingan antara kedua belah pihak tampaknya semakin sengit karena sebagian besar perempuan dan anak-anak yang ditahan oleh Hamas telah dibebaskan.

Kini, setelah gencatan senjata berakhir, pertempuran kembali memanas di Gaza dengan pengeboman Israel secara intens ke wilayah Khan Younis. Sementara itu, nasib Gaza kini berada di tangan para pemimpin dunia. Sidang Majelis Umum PBB di New York kemudian membahas situasi memprihatinkan yang terjadi di Gaza.

Resolusi Gagal Dewan Keamanan PBB

Resolusi gencatan senjata untuk Gaza gagal diadopsi oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wakil Tetap Amerika Serikat untuk PBB Robert Wood secara lantang menyatakan negaranya memveto seruan gencatan senjata di Gaza. Dengan keputusan AS tersebut, maka Dewan Keamanan PBB gagal mengadopsi resolusi gencatan senjata di Gaza.

Wood berbicara mewakili negaranya mengatakan bahwa gencatan senjata di Gaza akan menciptakan kondisi pecahnya perang lagi. “Meskipun Amerika Serikat sangat mendukung perdamaian yang langgeng, di mana baik Israel dan Palestina dapat hidup dalam damai dan aman, kami tidak mendukung seruan untuk segera melakukan gencatan senjata,” ujarnya di PBB, Jumat, 8 Desember 2023.

Menurutnya, gencatan senjata hanya akan menjadi benih bagi perang berikutnya, karena Hamas tidak mempunyai keinginan melihat perdamaian yang langgeng, untuk melihat solusi dua negara. Dia juga mengatakan AS melakukan segala upaya untuk membebaskan sandera yang tersisa.

Keputusan AS tersebut mendapat kecaman dari berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyatakan sangat menyesalkan gagalnya diadopsi resolusi gencatan senjata untuk Gaza di PBB. Menlu Retno mengatakan resolusi gencatan senjata di Gaza tersebut telah didukung oleh 102 negara termasuk Indonesia.

“Saya sangat menyesalkan kegagalan Dewan Keamanan dalam mengadopsi gencatan senjata kemanusiaan di Gaza meskipun lebih dari 102 negara, termasuk Indonesia, ikut mensponsori resolusi tersebut,” katanya, di platform X, pada Sabtu, 9 Desember 2023.

Menlu Retno pun menyampaikan bahwa Indonesia sangat kecewa karena Dewan Keamanan PBB gagal mengadopsi resolusi tersebut. “Upaya harus terus dilakukan guna memperbaiki situasi Gaza. Kita tidak boleh menyerah. Never give up,” tambahnya.

Dewan Keamanan PBB akhirnya mengadopsi resolusi yang mendukung penyelesaian permasalahan di Jalur Gaza pada Jumat, 22 Desember 2023. Resolusi yang lebih lunak ini menyerukan percepatan pengiriman bantuan kepada warga sipil yang kelaparan dan tanpa harapan di Gaza.

Meski demikian, resolusi tersebut tidak memasukkan draf soal gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Dewan Keamanan PBB kembali menggelar sidang hingga akhirnya menyetujui resolusi yang menuntut penyaluran bantuan keamanan skala besar ke Jalur Gaza pada Jumat, 22 Desember 2023.

Banyak yang menyayangkan resolusi tersebut. Kepala Bantuan Medis untuk Palestina (MAP) Melanie Ward menyebut apa yang termaktub dalam resolusi itu tidak cukup karena tidak mencakup adanya gencatan senjata.

“Resolusi ini tidak akan menghentikan bencana di Gaza, karena gagal menuntut satu hal yang dapat melindungi kehidupan warga sipil secara berkelanjutan dan memungkinkan distribusi bantuan yang cukup kepada semua yang membutuhkan: gencatan senjata segera dan permanen,” kata Ward.

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, juga mengecam resolusi terkini Dewan Keamanan PBB yang tidak mencakup gencatan senjata segera di Jalur Gaza. Hamas menggambarkan resolusi tersebut sebagai langkah yang tidak memadai.

Menurut mereka, resolusi itu juga tidak memenuhi persyaratan menghadapi bencana yang disebabkan mesin militer Israel di Gaza. Hamas menyatakan resolusi tidak mencakup keputusan internasional untuk menghentikan perang genosida yang dilakukan Israel.

Hal senada juga disampaikan secara resmi oleh Pemerintah China yang mengatakan Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang bantuan kemanusiaan ke Gaza itu tidak memenuhi harapan warga dunia. Namun, mengingat situasi mendesak di lapangan dan posisi Palestina serta negara-negara Arab lainnya, China memilih mendukung resolusi tersebut.

Meskipun begitu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyebut gencatan senjata tetap menjadi prioritas dan prasyarat mutlak dalam segala hal.

“China akan terus bekerja sama dengan semua pihak untuk meningkatkan koordinasi dan menggalang tindakan yang lebih efektif di DK PBB untuk melakukan upaya tanpa henti demi penghentian konflik di Gaza, penerapan solusi dua negara serta perdamaian dan stabilitas di Gaza,” ucap Mao Ning, Senin, 25 Desember 2023.

Seruan Gencatan Senjata Permanen

Sejumlah upaya terus dilakukan untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Gaza imbas konflik Israel-Hamas. Pejabat Israel mengatakan bahwa Mesir telah mengusulkan kepada pemerintahnya dan Hamas untuk membuat kesepakatan baru, termasuk soal pembebasan warga Israel yang disandera di Gaza.

“Usulan itu masih baru, tetapi penting dan positif,” kata pejabat tersebut seraya menambahkan bahwa Mesir punya pengaruh signifikan terhadap Hamas, yang bisa membantu keberhasilan usulan soal pembebasan warga Israel yang disandera di Gaza.

Bersama Qatar, Mesir membantu memediasi gencatan senjata selama seminggu pada November, ketika Hamas membebaskan lebih dari 100 sandera dengan imbalan pembebasan 240 warga Palestina yang ditahan Israel. Hamas dan kelompok lain masih menyandera sekitar 129 orang.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa sejumlah negosiator secara aktif bekerja dengan mitra internasional di Dewan Keamanan PBB mengupayakan resolusi penting guna mengatasi bencana kemanusiaan yang sedang terjadi di Gaza. “Kami masih bekerja sama dengan mitra-mitra kami di sana mengenai beberapa hal yang harus disampaikan. Tentu saja penting bagi kami agar situasi kemanusiaan di Gaza ditangani,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby.

Hamas sendiri mengumumkan bahwa kelompok-kelompok perlawanan di Palestina telah mengambil keputusan nasional untuk menolak pembicaraan dengan Israel soal kesepakatan pertukaran tahanan jika tidak ada gencatan senjata. Keputusan itu bergantung pada penghentian perang secara menyeluruh di Jalur Gaza.

Sementara, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Vershinin dan Duta Besar Turki untuk Rusia Tanju Bilgic mendesak gencatan senjata segera di Jalur Gaza. Disebutkan bahwa kedua pihak menekankan pentingnya kebutuhan mendesak untuk menghentikan pertumpahan darah melalui gencatan senjata segera dan komprehensif. Dalam pernyataan tersebut tertulis juga bahwa penting untuk membangun akses kemanusiaan yang luas dan tanpa hambatan serta mencegah krisis merembet ke negara lain di kawasan.

Setali tiga uang, Inggris dan Prancis menyerukan gencatan senjata berkelanjutan. Menteri Luar Negeri Prancis Catherine Colonna menyampaikan harapannya agar gencatan senjata segera dan berkelanjutan diterapkan di Gaza. “Saya yakin upaya-upaya kami mengarah pada keinginan untuk segera melakukan gencatan senjata yang berkelanjutan,” kata Colonna.

Sementara, Inggris juga sepakat dengan Prancis. “Apa yang ingin kami lihat adalah gencatan senjata sesegera mungkin, tetapi gencatan senjata itu harus berkelanjutan,” ujar Menlu Inggris David Cameron.

Tak ketinggalan, Indonesia menuntut agar gencatan senjata permanen yang sangat dibutuhkan warga sipil di daerah kantong Palestina diberlakukan. Menlu RI Retno Marsudi dan Menlu Aljazair Ahmed Attaf saat bertemu di Algiers, Rabu, 20 Desember 2023, sepakat bahwa mengatasi masalah inti, yaitu pendudukan ilegal Israel di Tanah Palestina, sangat penting untuk menjamin perdamaian abadi bagi rakyat Palestina.

“Saya dan Menteri Attaf memiliki keyakinan yang sama bahwa Aljazair dan Indonesia dapat terus bekerja sama untuk membela keadilan dan kemanusiaan bagi rakyat Palestina,” kata Menlu Retno. (Inilah.com)

Komentar