Masyarakat Diminta Perketat Prokes Varian Omicron Terdeteksi

Kesehatan1103 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Ketua MPR, Bambang Soesatyo, meminta masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan terkait ditemukannya pasien Covid-19 varian Omicron di Jawa Timur.

“Kami mendorong masyarakat di daerah Jatim dan sekitarnya agar meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat protokol kesehatan serta membatasi mobilitas mengingat kasus Omicron penularannya cukup cepat,” kata dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (4/1/2022).

Ia juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik dengan adanya deteksi Covid-19 varian Omicron tersebut.

Ia juga mendorong Satuan tugas penanggulangan Covid daerah Jawa Timur segera melakukan tindakan pencegahan dengan mengkarantina pasien yang terdeteksi serta meningkatkan testing dan tracing terhadap orang yang terlibat kontak.

“Saya minta pemerintah provinsi Jatim untuk menggencarkan dan memperluas testing serta tracing terhadap mereka yang melakukan kontak erat. Hal ini diperlukan sebagai upaya deteksi dini disamping mencegah terjadinya penularan lokal hingga lonjakan kasus akibat varian Omicron,” kata dia.

Masyarakat Diminta Perketat Prokes Varian Omicron Terdeteksi

Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus menjaga tingkat penularan agar bertahan dibawah satu persen, sekaligus terus berupaya mempercepat vaksinasi Covid-19 hingga dosis lengkap guna membentuk kekebalan kelompok.

Ia pun mengingatkan pentingnya vaksinasi sebagai salah satu cara untuk mencegah penularan Omicron, disamping sebagai salah satu intervensi dalam menekan penyebaran Covid-19.

Ia juga meminta dukungan seluruh pihak, dalam hal ini masyarakat untuk bersama-sama pemerintah berupaya sekuat tenaga agar mencegah varian Omicron tidak meluas ke daerah-daerah lainnya. Yakni, melakukan kembali penerapan kebijakan PPKM secara ketat dan tegas guna mempertahankan status kasus aktif agar tetap rendah.

Diketahui, kasus varian Omicron di Surabaya terdeteksi pasca-penderita berlibur bersama keluar di Bali. Hingga Minggu (2/1), ada dua orang terdeteksi namun kondisinya orang tanpa gejala.

Kasus Omicron 152 Orang

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan jumlah pasien terinfesi varian baru COVID-19, Omicron, di Indonesia kini sudah mencapai total 152 orang.

“Sebanyak 146 merupakan kasus impor dan enam kasus transmisi lokal,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin, saat menyampaikan keterangan pers terkait PPKM yang diikuti dari YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin (3/1/2022).

Budi mengatakan dari 152 kasus yang masuk ke Indonesia, setengahnya tanpa gejala, setengahnya lagi sakit ringan.

“Mereka tidak butuh oksigen dan saturasinya masih di atas 95 persen. Sekitar 23 persen atau 34 orang sudah kembali ke rumah. Sampai sekarang tidak ada yang membutuhkan perawatan serius di RS, cukup diberi obat dan vitamin,” katanya.

23 Persen dari 152 Orang Sembuh

Disamping itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melaporkan sebanyak 23 persen atau 34 orang dari 152 kasus Omicron di Indonesia telah dinyatakan sembuh usai menjalani perawatan dan isolasi.

“Dari 152 kasus yang masuk di Indonesia, itu lebih setengahnya adalah tanpa gejala, setengahnya lagi sakit ringan,” kata Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan pers terkait PPKM yang diikuti dari YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin.

Menurut Budi, 23 persen atau 34 pasien Omicron di Tanah Air telah dinyatakan sembuh dan sudah kembali ke rumah.

Sejak kasus Omicron pertama diumumkan pada pertengahan Desember 2021, kata Budi, tidak ada satu pun pasien yang membutuhkan perawatan serius di rumah sakit. “Cukup dikasih obat dan vitamin mereka sudah bisa kembali ke rumah,” katanya.

Budi menambahkan meski secara klinis Omicron mampu menghindari antibodi vaksin di tubuh manusia, tidak menyebabkan gejala yang berat.

“Berita baiknya untuk kasus Omicron secara klinis, walaupun perlindungan antibodinya yang berasal dari vaksin bisa dilalui, tapi perlindungan dari T sel masih bisa melindungi dengan cukup baik. Itu yang menjelaskan kenapa angka pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit lebih rendah,” katanya (R1/Ant)