oleh

Parah! Pungli Disikat, Layanan Bongkar Muat Priok Disebut Melambat

Jakarta, Karosatuklik.com – Beberapa sopir kontainer di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara mengaku dipersulit saat melakukan bongkar muat barang usai pelaku pungutan liar (pungli) ditangkapi kepolisian.
Salah satu sopir kontainer yang melakukan bongkar muat di Jakarta International Container Terminal (PT JICT) Fikri mengatakan proses bongkar muat diperlambat sejak pungutan liar dilarang di kawasan ini.

“Kemarin pas pertama dilarang pungli lelet alatnya, sengaja dilelet-leletin dari sini ke dalem macet,” kata Fikri saat ditemui di kokpit truknya sebelum masuk pintu pemeriksaan JICT, Senin (14/6/2021).

Akibat bongkar muat diperlambat, terjadi penumpukan truk kontainer. Baik di depan pintu pemeriksaan maupun di dalam area bongkar muat peti kemas.

Menurut Fikri, penumpukan terjadi pada hari Minggu (13/4) saat larangan pungli dan penangkapan puluhan oknum pungli diberitakan banyak media massa.

“Masuk saya jam 9 malam keluar jam 5 sore. Kelaparan semua di dalam,” kata Fikri kesal.

Baca Juga :  Bupati Asahan Pimpin Apel Pagi di Lingkungan Satpol PP Kabupaten Asahan

Padahal, jika pelayanan dilakukan secara cepat, pukul 22.00 WIB bongkar muat sudah selesai. Dia pun bisa membawa barang dalam peti kemas ke pabriknya di Serang.

Namun akibat diperlambat, dia dan sopir lainnya harus menginap di dalam area pelabuhan. Meski mengeluh, mereka hanya bisa menunggu.

“Aduh pada, gara-gara pungli kayak gini. Ngeluh-ngeluh semua,” kata Fikri menirukan teman-teman sopirnya.

Dia mengatakan arus lalu lintas di kawasan Koja jadi macet. Kemacetan juga terjadi di area pelabuhan lain seperti UCT, Koja, dan pelabuhan lokal. Menurutnya, itu merupakan imbas proses bongkar muat yang diperlambat.

“Lokal-lokal juga macet pelabuhan. Pas besoknya, pas ada berita,” imbuh Fikri.

Hal yang sama juga dikeluhkan Suhendar, salah satu sopir kontainer yang membawa berisi barang-barang ekspor. Menurutnya, saat ini kegiatan pungli memang sudah dilanggar.

Bahkan sopir yang memberikan uang bisa dimasukan daftar hitam dari pelabuhan.

Sejak ada peraturan larangan pungli, layanan menjadi lelet. Hal itu membuat lalu lintas di Koja menjadi lumayan macet pada Minggu lalu (13/6).

Baca Juga :  Indah pada Waktunya, Rafael Malalangi Akhirnya Bisa Jadi Polisi

“Gara-gara pas kemarin itu ada peraturan kayak gitu kan, sopir enggak ngasih jadi males ininya dari pelabuhan,” kata Suhendar yang juga ditemui di depan pintu pemeriksaan pelabuhan JICT.

Sebelum kedatangan Presiden Joko Widodo dan aturan larangan pungli ditegakkan, Suhendar mesti membayar Rp2 ribu rupiah saat masuk pintu pemeriksaan JICT.

Di area bongkar muat, ia mesti merogoh sakunya sebanyak Rp5 ribu untuk operator crane. Saat keluar, ia mesti membayar Rp2 ribu lagi untuk petugas security. Jika tidak membayar, Suhendar akan dipersulit.

“Misalkan di luar nih, ngecek ekspor, nomor segel, kita enggak ngasih dikerjain suruh muter lagi. Itu juga berdampak kemacetan sebenarnya mah,” ujarnya.

Sebagaimana Fikri dan Suhendar, seorang sopir lain yang tidak mau disebutkan namanya juga mengatakan bahwa sekarang tidak ada lagi pungli.

Secara pribadi ia mengaku tidak menpermasalahkan pungutan bayaran itu. Sebab, hal itu sudah lumrah di pelabuhan.

Baca Juga :  Update Kasus Pembunuhan Wartawan di Simalungun: 4 Oknum TNI Ditangkap

Menurutnya, yang terpenting adalah layanan bongkar muat lancar.

“Kalau sudah biasa, kalau masalah tekor kayak gitu, yang penting kita lancar aja,” ujarnya saat ditemui di Container Terminal seberang Tanjung Priok. (cnnindonesia.com)

Komentar

Topik Terkait