oleh

Jarang Diketahui, Sisi Lain Keunikan Borobudur

Magelang, Karosatuklik.com – Peninggalan bersejarah memang selalu unik dan banyak makna tersirat di dalamnya. Minggu siang (25/10/2020) ini, redaksi karosatuklik.com mengangkat kisah sisi lain keunikan Candi yang melegendaris dan penuh makna tersirat dari setiap pahatan batunya.

Candi Borobudur dengan sejuta keunikan dan keindahannya menjadi daya tarik para wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Borobudur tak sekadar bangunan untuk bersembahyang, ada banyak misteri yang belum banyak diketahui orang. Sisi lain dari warisan dunia (World Heritage), kebanggan leluhur Indonesia itu, salah satunya yang menarik adalah jam raksasa candi Borobudur.

Saat candi Borobudur ditemukan, bangunan besar ini ternyata tertimbun abu vulkanik dan dipenuhi dengan semak belukar pada tahun 1814. Borobudur bermula pada sekitar tahun 750 Masehi, ketika seorang arsitek bernama Gunadarma berdiri di sebuah gunung di Kerajaan Syailendra.

Di hadapannya, tampak sebuah danau dikelilingi tujuh gunung dan di tengah danau tersebut berdiri sebuah bukit. Dari danau itu mengalir sungai yang berkelok-kelok, sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya, panorama yang tersaji.

Sayangnya, dua dari tujuh gunung yang mengelilingi termasuk gunung aktif, itulah Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

Alam Kerajaan Syailendra subur dan indah tapi rawan bencana. Gunadarma adalah seorang yang taat beragama Budha dan Gunadarma mungkin juga berharap kerajaannya selamat dari bencana.

Dia memikirkan sebuah cara bagaimana jika di tengah danau itu dibangun sebuah tempat ibadat supaya Tuhan melindungi manusia dari bencana.Gunadarma merancang tempat ibadat berbentuk bunga terata, bunga teratai raksasa yang mekar di tengah danau dan dikelilingi tujuh gunung.

Raja Syailendra mendukung pembangunan tempat ibadat itu dan dibangun selama 92 tahun. Ketika selesai tempat ibadat itu memang tampak seperti bunga teratai di tengah danau, itulah tempat ibadat bernama candi Borobudur warisan leluhur Indonesia yang diakui dunia keunikan dan keindahannya.

Sayangnya, gempa dan letusan gunung berapi membuat danau di sekitar Candi Borobudur hilang, tumpukan debu gunung berapi menyebabkan danau mengering. Seiring perjalanan waktu, di zaman sekarang, Candi Borobudur tidak lagi dikelilingi danau.

Baca Juga :  Bupati Karo Bersama Forkopimda Ziarah ke Makam Ketua Moderamen GBKP di Sukamakmur

Borobudur dibangun sebelum bangsa Kamboja membangun Candi Angkor Wat yang juga terkenal, dibangun sebelum orang Eropa membangun gedung-gedung katedral yang megah.

Bentuk candi Borobudur lebih rumit dibanding piramida Mesir
Bentuk candi Borobudur lebih rumit dibanding piramida Mesir. Bayangkan, batu seberat dua (2) ton disusun satu per satu sampai jadi bukit berlantai 10, batu itu juga diukir dengan gambar yang sangat teliti. Karosatuklik.com/Ist

Bentuk candi Borobudur lebih rumit dibanding piramida Mesir. Bayangkan, batu seberat dua (2) ton disusun satu per satu sampai jadi bukit berlantai 10, batu itu juga diukir dengan gambar yang sangat teliti. Mahzab Buddha Mahayana menyebutkan, setiap orang yang ingin mencapai tingkat (sebagai Budha) mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

Gambar itu berkisah tentang kehidupan rakyat Kerajaan Syailendra. Nah, ada satu misteri lain soal Candi Borobudur yang jarang diketahui selama ini, yakni sebuah jam raksasa. Bagaimana melihat Candi Borobudur sebagai sebuah jam raksasa? Begini penjelasannya.

Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan dunia, memiliki 72 buah stupa berbentuk lonceng, stupa terbesar berada di lantai teratas. Arsitek Borobudur memakai stupa-stupa itu sebagai titik tanda jam. Jarum jam-nya berupa bayangan sinar matahari yang disebabkan stupa terbesar.

Bayangan stupa terbesar selalu jatuh dengan tepat di stupa lantai bawah. Tak hanya itu, Candi Borobudur juga merupakan petunjuk arah yang sangat tepat, tanpa bantuan kompas dan GPS. Luar biasa bukan?

Seperti diketahui, matahari memang terbit di arah timur. Namun, tidak selalu tepat di titik timur. Matahari hanya terbit benar-benar di titik timur dalam dua kali setahun, yaitu sekitar tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.

Nah, arsitek Borobudur rupanya sudah mengetahui titik timur yang benar. Oleh karena itu, Candi Borobudur juga dibangun menghadap titik utara dan selatan dengan sangat tepat. Leluhur kita memang mengagumkan. (R1/Berbagai Sumber)

Suka dengan tulisan ini? Yuk, Bagikan!

Ditulis Oleh : Robert Tarigan

Robert Tarigan
Penulis Berita dan Pimpinan Redaksi Karo Satu Klik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru