Arya Saloka Sulit Melepas “Aldebaran” Saat Syuting “Gadis Kretek”

Entertainment759 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Aktor Arya Saloka yang memerankan karakter Lebas dalam serial “Gadis Kretek” mengaku sempat mengalami kesulitan untuk melepaskan karakter Aldebaran dari sinetron “Ikatan Cinta” yang melekat kepada dirinya selama dua tahun.

“Kasarnya itu saya sudah ketempelan nih dengan manusia itu, yang mungkin udah banyak yang tahu juga sosok Aldebaran-nya,” ujar Arya di Jakarta, Rabu (1/11/2023).

Ia mengungkapkan bahwa dirinya bahkan sampai mengambil kursus akting tambahan dengan Rukman Rosadi selaku pelatih akting atau acting coach bagi para pemain “Gadis Kretek”.

“Minta les tambahan dengan bagaimana cara kita menetralisir pandangan, karena pandangan saya yang hampir dua tahun saya bawa itu kan harus dinetralkan,” kata Arya.

Ia mengatakan harus menerapkan ilmu-ilmu tersebut untuk menciptakan sebuah pandangan yang baru, yakni sorot mata karakter Lebas.

Oleh karena itu, bagi Arya, tantangan terbesar dalam proses syuting serial “Gadis Kretek” adalah melepaskan karakter Aldebaran dan menghadirkan karakter baru di dalam dirinya.

Ketika menyaksikan hasil aktingnya pun, Arya mengaku bahwa dirinya merasa berdebar-debar dan khawatir dirinya masih terbawa karakter Aldebaran.

“Akhirnya disemangatin oleh Mbak Dian. Dia bilang, ‘lo bagus, jangan nervous’,” ucap Arya.

Dalam kesempatan yang sama, aktris Dian Sastrowardoyo yang memerankan Dasiyah dalam serial “Gadis Kretek” menilai Arya berhasil lepas dari karakter Aldebaran.

Dian mengatakan bahwa karakter Lebas yang diperankan oleh Arya merupakan sebuah prestasi.

“Good job. Aku bangga sebagai kakak. Dia pinter, dia bagus, dia jago,” kata Dian Sastro.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi Pers “Gadis Kretek” di Jakarta, Rabu.

Serial “Gadis Kretek” telah diputar perdana di Busan International Film Festival ke-28 di Korea Selatan, dan ditayangkan secara eksklusif di platform streaming Netflix pada 2 November 2023.

Serial ini bercerita tentang perjalanan cinta dan penemuan jati diri seorang perajin berbakat dimulai saat ia menentang tradisi industri rokok kretek di Indonesia pada tahun 1960-an. (Ant)

Komentar