Kopi Karo Mendunia, Petani Merana

Berita5297 x Dibaca

Kabanjahe, Karosatuklik.com – Mayoritas petani kopi di dataran tinggi Kabupaten Karo membudidayakan kopi arabika yang lebih dikenal dengan kopi ateng dan kopi sigalar utang mengeluhkan rendahnya harga jual kopi.

Penurunan harga kopi itu semakin dirasakan dampaknya, mengingat pandemi Covid-19 dan bencana vulkanik Gunung Sinabung belum lagi usai, sehingga makin menggerus pendapatan para petani yang berharap hasil panen raya bisa menambah pemasukan penopang ekonomi keluarga. Namun harga jual tidak kunjung membaik memupus harapan petani.

Hal itu diungkapkan petani kopi arabika dari Kecamatan Naman Teran, Sahta Sitepu (54) dan H Pinem (48), Selasa (22/09/2020) Pukul 19.00 WIB di Kabanjahe kepada karosatuklik.com.

Coba bayangkan, lanjutnya lagi, bagaimana menderitanya petani kopi, dengan harga jual sangat murah. Chery Rp 4000 – 6000 per Kg. Kalau sudah dikupas Rp16.000/Kg. Harga kopi dalam bentuk gabah sudah lama bertahan di level rendah.

Menurut dia, harga sekarang memang jauh menurun dibanding harga normal yang bisa mencapai Rp 25.000 – 30.000 per kilogram. “Ini sungguh memberatkan petani, hal itu diperparah lagi dengan rendahnya harga jual tanaman tumpang sari dengan kopi yakni komoditi wortel dan kubis,” keluhnya.
 
Mayoritas petani kopi di dataran tinggi Kabupaten Karo
Mayoritas petani kopi di dataran tinggi Kabupaten Karo membudidayakan kopi arabika mengeluhkan harga jual yang rendah. Karosatuklik.com/robert tarigan

Anehnya lagi, ujar Sahta Sitepu, kafe-kafe kopi atau bisnis usaha yang bergerak di bidang kopi semakin menjamur dimana-mana, bahkan kopi Karo sudah mendunia, tapi kenapa harga jual ditingkat petani dihargai sangat rendah, ucapnya.

Cerita soal kopi Karo, yang perlahan mulai menggeser komoditas jeruk yang lama bertahan sebagai tanaman primadona petani Karo memang tidak ada habisnya. Namun beberapa bulan belakangan harga yang terus anjlok, membuat petani semakin merana.

“Bahkan kita boleh berbangga karena kopi asal daerah pegunungan Kabupaten Karo, bisa ditemukan di 28 ribu gerai Starbucks di seluruh dunia dan menjadi yang paling digemari, tapi kenapa harga jual gabah kopi milik petani tidak kunjung naik,” katanya.

Bahkan, pemilik gerai kopi terbaik di dunia, Starbucks, memiliki 5 lokasi Starbucks Farmers Support Center (FSC) di dunia, satu satunya di Indonesia, dibuat di Berastagi, setelah Kolombia, Cina, Kosta Rika, dan Meksiko.

“Tadinya petani kopi berharap, dengan adanya FSC Starbucks di Berastagi, harga jual semakin membaik dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani kopi. Lagipula seharusnya, disaat tingginya permintaan tidak ada alasan harga jual kopi rendah,” tuturnya.

Permintaan Menurun

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Ir Metehsa Purba, mengakui, saat ini harga setiap komoditi mengalami penurunan termasuk kopi. “Harga turun karena permintaan mengalami penurunan, dengan demikian stok kopi tentu melimpah,” jelasnya.

Dampak virus corona memang menyengat ke segala sektor, permintaan mengalami penurunan yang cukup tinggi, katanya.

Kopi kualitas terbaik diatas ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Dari 17 kecamatan se Kabupaten Karo, 10 kecamatan dikenal sentra kopi, yakni Kecamatan Merdeka, Dolat Rakyat, Kabanjahe, Brastagi, Simpang Empat, Naman Teran.

Selanjutnya, Tiga Panah, Barus Jahe, Kecamatan Merek dan Payung. Khusus di Kecamatan Payung, area pertanaman kopinya relatif sedikit. Kendati demikian, 10 kecamatan dimaksud merupakan penghasil kopi Arabica terbaik dengan luas lahan total keseluruhannya sekitar 11.000 hektar, tuturnya. (R1)