oleh

Jerman Tuan Rumah Piala EURO 2024

Jakarta, Karosatuklik.com – Piala Eropa 2020 atau edisi ke-16 telah usai dengan Italia sebagai juara setelah mengalahkan Inggris di Stadion Wembley, London, Senin (12/7/2021).

Kini, Fokus UEFA tertuju pada turnamen edisi berikutnya, yakni EURO 2024 yang rencananya berlangsung di Jerman.

Jika tidak terjadi perubahan jadwal, Piala Eropa edisi ke-17 akan dilangsungkan pada 14 Juni hingga 14 Juli 2024.

Format turnamen masih tetap sama seperti EURO 2016 dan 2021, yakni terdapat 24 negara yang berpartisipasi dengan 1 tuan rumah.

Adapun 24 negara tersebut akan terbagi ke dalam 6 grup yang masing-masing diisi oleh 4 kontestan.

Lantas, 2 peringkat teratas otomatis lolos ke babak 16 besar. Sisa 4 negara untuk melengkapi kuota 16 tim tersebut akan diambil dari 4 peringkat 3 terbaik.

Para pemenang di babak 16 besar akan bertemu di fase perempat final dengan jalur atau bagan yang telah ditentukan sebelumnya.

Pemenang babak 8 besar akan berjumpa di semifinal dan kemudian baru ditemukan 2 tim terbaik yang akan berlaga di partai final.

UEFA masih enggan untuk melangsungkan perebutan juara ketiga pada EURO 2024 nanti. Itu artinya, tetap akan ada 51 pertandingan yang akan memakan waktu selama 32 hari.

Selaku tuan rumah, Jerman telah memastikan diri lolos ke putaran final. Sebelumnya pada September 2018 lalu, Jerman memenangi voting penentuan tuan rumah atas Turki. Jerman meraup 12 suara berbanding 4 suara untuk Turki.

Baca Juga :  Shin Tae-yong Sudah Kirim ke PSSI Daftar Pemain TC Timnas Indonesia

“Kami memiliki stadion yang luar biasa, penggemar yang mencintai sepak bola, pertama dan terutama, kami memiliki orang-orang yang suka merayakan [sepak bola] dengan orang Eropa lainnya. Kami akan menyelenggarakan pesta sepak bola besar [EURO] di Jerman,” kata eks Kapten Timnas Jerman, Philipp Lahm, pada 27 September 2018 dikutip BBC.

Satu fakta lain dari proses penentuan tuan rumah EURO 2024 adalah mundurnya negara-negara Skandinavia dari pencalonan.

Adapun 4 negara Skandinavia tersebut, yakni Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Mereka sempat mengajukan diri sebagai tuan rumah bersama pada 4 Maret 2016.

Namun, pada 28 Februari 2017 diumumkan bahwa keempatnya sepakat untuk tidak meneruskan proses tersebut

10 Kota Tuan


Jerman tentu sudah berpengalaman menggelar event sepak bola dalam skala besar. Misalnya, kesuksesan mereka sebagai tuan rumah 2006. Sebelum reunifikasi, Jerman Barat juga pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 1974 dan 1988.

-nya Jerman, DFB, telah menunjuk 10 kota yang akan menjadi tuan rumah putaran final Piala Eropa 2024 mendatang. Berlin selaku ibu kota negara tetap ditunjuk untuk menjadi salah satu tuan rumah.

Begitu juga dengan kota besar lain dengan kultur sepak bola yang kuat, macam Munich, , Hamburg, dan Gelsenkirchen.

Kota-kota lain yang ditunjuk sebagai tuan rumah ialah Leipzig, Stuttgart, Cologne, Frankfurt, dan Dusseldorf. Terpilihnya Leipzig juga menimbulkan sebuah fakta, yakni untuk pertama kalinya Piala Eropa digelar di kota yang dahulu menjadi bagian dari Jerman Timur.

Baca Juga :  Shin Tae-yong Sudah Kirim ke PSSI Daftar Pemain TC Timnas Indonesia

Kota-kota tersebut tentunya juga sudah berpengalaman menggelar pentas sepak bola akbar. Adapun 9 kota di antaranya bahkan turut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006, yaitu Berlin, Dortmund, Munich, Cologne, Stuttgart, Hamburg, Leipzig, Frankfurt, dan Gelsenkirchen.

Hanya Hannover, Nurnberg, dan Kaiserslautern sebagai kota tuan rumah Piala Dunia 2006 yang tidak diikutsertakan di Piala Eropa 2024 nanti. Sedangkan Dusseldorf dahulu juga pernah menjadi kota tuan rumah Piala Dunia 1974 dan Piala Eropa 1988.

Tolak Tuan Rumah Multi-Negara

Satu perbedaan mencolok dari EURO 2020 dan EURO 2024 adalah dari faktor tuan rumah. Jika EURO 2020 dilakukan di 11 negara atau ada 11 negara yang menjadi tuan rumah, EURO 2024 hanya 1 negara yang menjadi tuan rumah, yakni Jerman.

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menjadi orang yang mengkritisi kebijakan multi-negara sebagai tuan rumah Piala Eropa.

Baginya, hal itu sangat tidak bersahabat bagi tim dan juga para suporter karena harus melakukan penerbangan jauh. Seperti diketahui, keputusan menggelar Piala Eropa di beberapa negara terjadi ketika Ceferin belum menjabat sebagai Presiden UEFA.

 

Hal itu memang bisa dimaklumi karena negara peserta jelas menjadi lebih lelah lantaran berpindah negara untuk bertanding.

Bahkan banyak peserta yang harus bolak-balik dari negara tuan rumah ke negara yang menjadi pusat pelatihan mereka. Misalnya, Italia yang beberapa kali terbang dari Florence, markas latihan mereka, ke London untuk menjalani babak 16 besar, semifinal, dan final.

Baca Juga :  Shin Tae-yong Sudah Kirim ke PSSI Daftar Pemain TC Timnas Indonesia

“Saya tidak akan mendukung format itu lagi. Itu tidak akan adil karena beberapa tim harus bepergian sejauh 6.000 mil sedangkan yang lain hanya 600 mil. Begitu juga dengan fans yang pada suatu hari harus mendukung timnya di Roma [Italia], tetapi besoknya terbang ke Baku [Azerbaijan] untuk menonton pertandingan berikutnya,” ucap Ceferin pada 9 Juli 2021 dikutip NBC.

“Format tersebut mengharuskan kita sering terbang ke negara berbeda. Imbasnya, kita harus menyesuaikan dengan hukum di masing-masing negara, mata uang, negara dan non-Uni Eropa, dan itu tidak mudah. Sebenarnya format tersebut adalah ide yang menarik, tapi saya tidak mau menerapkannya lagi,” imbuh Presiden UEFA suksesor Michel Platini itu.

Tempat tuan rumah adalah sebagai berikut:

• Berlin : Olympiastadion Berlin (70.033)
• Cologne : Stadium Cologne (46.922)
• Dortmund : BVB Stadion Dortmund (61.524)
• Dusseldorf : ARENA Dusseldorf (46.264)
• Frankfurt : ARENA Frankfurt (48.057)
• Gelsenkirchen : ARENA AufSchalke (49.471)
• Hamburg : Volksparkstadion Hamburg (50.215)
• Leipzig : Stadion Leipzig (46.635)
• Munich : ARENA Munich (66.026)
• Stuttgart : ARENA Stuttgart (50.998). (R1/tirto.id)

Komentar

Topik Terkait