Pengusaha Tak Setuju Kerja 4 Hari Seminggu, Produktivitas Indonesia Bakal Tertinggal di ASEAN

Nasional1599 x Dibaca

Jakarta, Karosatuklik.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) belum sepakat dengan waktu 4 hari kerja dalam seminggu. Pasalnya, hal itu dinilai akan menurunkan produktivitas kerja.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menjelaskan banyak aspek yang berpengaruh pada produktivitas kerja. Salah satunya adalah lama waktu kerja dalam satu pekan, saat ini berlaku 5 hari kerja dalam seminggu.

“Sehingga apabila kita akan mengurangi hari kerja yang pastinya akhirnya akan mengurangi jam kerja, maka kita akan lebih sulit lagi untuk menyaingi produktivitas negara lainnya di ASEAN,” ujar Shinta kepada Liputan6.com, Senin (12/2/2024).

Dia menilai, pengaturan waktu kerja di suatu negara sangat berpengaruh pada tingkat produktivitas negara tersebut. Shinta menyebut aspek ketenagakerjaan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja.

Aturan tersebut menjelaskan, Indonesia masih menerapkan waktu kerja 40 jam per minggu dengan kemungkinan lembur 4 jam per hari dengan 5 atau 6 hari kerja per minggu.

“Berdsarkan statistik ILO (Indonesia Labour Organization) tahun 2021, produktivitas Indonesia berada pada posisi ke 5 di ASEAN, di bawah Singapore, Brunei, Malaysia, dan Thailand,” tegasnya.

Selain aturan waktu tadi, Shinta menyinggung soal tingkat pendidikan tenaga kerja di Indonesia yang didominasi lulusan SMP ke bawah sebesar 58 persen. Ini berkaca pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2024.

“Sedikit banyak tingkat pndidikan yang rendah akan berkontribusi pada rendahnya produktivitas,” kata dia.

Benarkah Seminggu Kerja 4 Hari Cukup Efektif? Ini Kata Pengamat

Sebelumnya, beberapa ahli menilai pengurangan masa kerja menjadi 32 jam dalam seminggu adalah langkah maju dalam upaya memperjuangkan keseimbangan kehidupan bagi para pekerja ke arah yang lebih baik.

Menurut Karen Foster profesor sosiologi di Universitas Dalhousie di Halifax, sulit membayangkan hal tersebut bisa diadopsi hingga seluruh dunia lantaran kita telah terbiasa dengan aturan waktu kerja hingga 40 jam.

Pada pertengahan September 2023, serikat pekerja United Auto Workers (UAW) dan tiga serikat pekerja di Amerika Serikat — Ford Motor Company, General Motors, dan Stellantis — melakukan pemogokan.

Salah satu tuntutan mereka adalah pengurangan durasi kerja. Tetap dibayar gaji full, meskipun hanya bekerja selama 32 jam, dikutip dari laman cbc.ca, Senin (12/2/2024).

Foster mengatakan, beberapa orang mungkin sulit membayangkan dibayar dengan gaji yang sama tapi pekerjaan yang lebih sedikit. Namun, menurutnya hal ini berkaitan dengan masalah produktivitas.

“Gerakan empat hari kerja dalam seminggu sangat berkaitan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, bisa mencapai tingkat produktivitas yang sama dalam durasi kerja yang lebih singkat.”

Mengurangi Kelelahan

Mengurangi kelelahan, meningkatkan kesehatan hingga beberapa manfaat lain akan dirasakan jika manusia bekerja empat hari dalam seminggu, kata Foster.

“Pekerja tiba di tempat kerja dengan kondisi pulih. Mereka tidak perlu lagi istirahat di tempat kerja,” katanya.

“Dan saya pikir akan banyak orang yang dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan ketika berada di bawah kendali dibandingkan jika Anda memiliki tenggat waktu yang sangat panjang.”

Namun, ada Matt Juniper, salah satu pendiri Praxis PR yang berbasis di Toronto, awalnya merasa skeptis terhadap aturan kerja empat hari dalam seminggu.

Setelah melihat data, Juniper memutuskan untuk mencoba hal tersebut selama enam bulan. (Liputan6.com)

Komentar