oleh

“Siwaluh Jabu” Perlahan Tergerus Modernisasi

Kabanjahe, Karosatuklik.comRumah Adat Karo “Siwaluh Jabu” terkenal akan keindahan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh dihiasi dengan ornamen-ornamennya yang kaya akan nilai-nilai filosofis. Bentuk, fungsi dan makna Rumah Adat Karo menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat Karo dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Pemilihan bahan untuk membangun Rumah Adat Karo serta proses pembangunannya yang tanpa menggunakan paku besi atau pengikat kawat, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk semakin menambah keunikan Rumah Adat Karo.

Namun sayang sekali, “Siwaluh Jabu”  keadaannya kini sangat memperihatinkan. Padahal, rumah peninggalan leluhur Karo bernilai  sejarah ini tak bisa diukur dengan uang. Jika kurang diperhatikan, asset budaya ini bisa pupus tergerus alam modernisasi, menenggelamkam history peradaban sejarah Karo, salah satu suku bangsa di Indonesia.

Tim Adventur budaya, Karosatuklik.com, Rabu (9/9/2020) menyusuri peninggalan karya agung leluhur Karo yang memiliki keindahan seni arsitektur serta memiliki keunikan tersendiri itu terancam punah jika Pemerintah daerah tidak peduli akan kelestariannya.

Berbagai fasilitas di rumah siwaluh jabu yang mencerminkan pola hidup harmonis dan dalam kesatuan lingkungan, sehingga merupakan perpaduan antara aspek-aspek yang keramat (sacral) dan lingkungan yang tetap tertata, terpelihara dalam suasana penuh kedamaian sebagai satu konsep saling menyayangi di antara keluarga, kerabat dan paling utama adalah cerminan sikap gotong royong masyarakat dalam segala bentuk perilaku dan kehidupan.

Perkembangan zaman yang semakin mengglobal seiring sebangun dengan ilmu pengetahuan berkembang pesat, penghargaan kearah itu mengalami pengikisan. Orisinalitas bagian dalam rumah adat, perlahan sirna. Peralatan memasak dan perangkat dapur lainnya bisa dibilang semi modern. Tiada  lagi terlihat pandangan unik dibagian dalam.

Satu dari enam rumah budaya yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara sebelum merebaknya Pandemi Covid-19, di desa Sempajaya, Kecamatan Berastagi dan desa Dokan Kecamatan Merek. Umumnya wisatawan yang datang ke DTW ini terkagum-kagum setelah menyaksikan keunikan konstruksi rumah yang dibangun pada abad 19, kata warga setempat.

jambur
Jambur Pemkab Karo di kompleks rumah dinas Bupati Karo, Jalan Veteran Kabanjahe. (karosatuklik.com/robert tarigan)

Tim budaya karosatuklik.com teringat bangunan rumah adat yang pernah dijadikan museum dibangun sekitar 40 tahunan silam, semasa Bupati Karo, alm Kol (purn) Tampak Sebayang, bersebelahan dengan bangunan Kodim 0205 Tanah Karo di jalan raya Berastagi-Kabanjahe,  setelah ambruk sekitar 10 tahun lalu,  tidak terlihat ada niat membangunnya kembali. Dikuatirkan, identitas dan jati diri pemuda Karo kelak akan hilang bila peradaban sejarah tersebut, sekarang saja tidak mendapat tempat di rumahnya sendiri.

Baca Juga :  Ditengah Pandemi, Gunung Sinabung Kembali Tebar Ancaman

Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu menggambarkan pola hidup kekerabatan orang Karo, karena masing-masing “Jabu” memiliki peranan yang berbeda-beda sesuai budaya Karo. Kalau diteliti lebih jauh, struktur pemerintahan rumah siwaluh jabu jelas terlihat struktur pemerintahan Karo, pemerintahan demokrasi kekeluargaan.

Rumah Si Pitu Ruang

Rumah Adat Karo, disebut-sebut juga sudah berdiri sejak abad 15 Masehi, seni konstruksinya dipengaruhi langgam Tamil Nado. Rumah adat tersebut, kapan mulai dibangun, sebetulnya tidak diketahui secara pasti, tetapi pada abad 15 Masehi rumah adat Karo di desa Aji Nembah sudah ada diketahui, yakni, Rumah Si Pitu Ruang, istana ayah Si Raja Sori, dimana sewaktu memasukinya pertama kali, terjadi gelap 7 hari 7 malam, yang diselamatkan bulang Barus, juga dari cerita Beru Ginting Pase, yang kejadiannya abad 13 Masehi, ada diuraikan tentang rumah adat yang menjadi istana Raja Nagur Pase di Pase.

Bahkan ada ditemukan rumah adat Karo di desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, berdiri tahun 1866. Mungkin masih ada lagi rumah adat Karo didirikan jauh sebelum tahun itu. Rumah adat warisan maha karya leluhur Karo itu bisa digambarkan sebagai ciri khas orang Karo yang tidak dimiliki suku lain.

Rumah adat Karo sumbernya atau dasarnya, demokrasi kekeluargaan dalam pemerintahan Kabupaten Karo pada zaman dulu. Sistim demokrasi kekeluargaan sudah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat Karo dan dilakukan hingga saat ini.

Dalam perkembangannya, bentuk rumah tradisional Karo saat ini telah banyak digunakan sebagai prototype dan bentuk-bentuk bangunan seperti bangunan hotel, bangunan restaurant, bangunan kantor. Diantaranya, Kantor Bupati Karo, Jambur Pemkab Karo komplek rumah dinas Bupati Jalan Veteran Kabanjahe, Hotel Berastagi Cottage, Hotel Rudang dan Hotel Internasional Sibayak Berastagi.

Bentuk yang banyak digunakan adalah bentuk-bentuk fisik bangunan hingga bentuk atap rumah. Semoga rumah adat warisan peradaban leluhur Karo yang bernilai tinggi ini bisa di rawat dan dilestarikan sebagai jati diri suku Karo. Serta paling penting, mendapat tempat di rumahnya sendiri. Catatan tim budaya karosatuklik.com ini diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah. (R1)
Suka dengan tulisan ini? Yuk, Bagikan!

Ditulis Oleh : Robert Tarigan

Robert Tarigan
Penulis Berita dan Pimpinan Redaksi Karo Satu Klik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru